• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Tolak Demonstrasi, Tapera Berikan Manfaat Bagi Masa Depan Masyarakat

Tolak Demonstrasi, Tapera Berikan Manfaat Bagi Masa Depan Masyarakat

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 26 June 2024

Tolak Demonstrasi, Tapera Berikan Manfaat Bagi Masa Depan Masyarakat

Oleh : Ayub Kurniawan

Masyarakat menolak keras demonstrasi segelintir elemen buruh pada 27 Juni 2024 terkait Undang-Undang Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), karena hal tersebut sangat rawan untuk ditunggangi oleh para provokator hanya demi melancarkan kepentingan pribadi mereka dan golongannya saja.

Terlebih, Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) sendiri merupakan kebijakan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi seluruh masa depan masyarakat.

Tapera merupakan salah satu regulasi yang disediakan negara untuk mempermudah masyarakat dalam memiliki hunian. Tapera juga memiliki beragam manfaat atau dampak sangat positif yang mampu dirasakan masyarakat dapatkan.

Maka sejatinya sungguh sangat tidak relevan apabila kebijakan tersebut mendapatkan penolakan atau bahkan sampai berujung pada unjuk rasa atau demonstrasi yang berpotensi berakhir menjadi kericuhan saja.

Selain itu, tidak jarang pula dari berbagai macam aksi demonstrasi yang terjadi, justru unjuk rasa yang berlangsung tersebut bukan karena atas kehendak hati masyarakat, namun malah merupakan ajang yang ditunggangi oleh para provokator tidak bertanggung jawab demi kelancaran kepentingan pribadi dan golongannya saja.

Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI), Aditya Perdana mengungkapkan apabila aksi unjuk rasa atau demonstrasi terus bergulir, tentunya menjadi hal yang sangat rumit karena akan mengganggu stabilitas pemerintahan.

Dengan adanya aksi unjuk rasa atau demonstrasi, kondisi tersebut bisa sangat menghambat proses perekonomian nasional. Terlebih apabila misalnya demo tersebut juga terjadi mogok kerja, maka akan sangat mengganggu rantai produksi yang pada akhirnya juga mengganggu laju perputaran roda ekonomi.

Padahal sebenarnya pemerintah sejauh ini sudah bekerja dengan sangat keras untuk menghadapi inflasi yang terjadi di dunia karena berdampak pada Indonesia pula. Hal tersebut saja sudah merupakan pekerjaan yang tidak mudah, namun apabila terjadi pula demo yang berujung aksi anarkis, maka akan jauh lebih menyusahkan.

Keberadaan aksi unjuk rasa atau demonstrasi yang berlangsung secara berlebihan di tengah masyarakat sangat rawan untuk ditunggangi dan disusupi oleh gerombolan kelompok tidak bertanggung jawab tertentu yang hanya ingin mendapatkan keuntungan secara pribadi dari adanya kerusuhan atau instabilitas tersebut.

Terlebih, jika terus berlanjut, maka demonstrasi juga mampu semakin memperkeruh kondisi ekonomi nasional yang padahal Indonesia mampu terus bertahan dengan mencatatkan performa yang bagus di tengah tekanan dunia saat ini.

Apalagi jika berbicara mengenai bagaimana substansi yang mereka bawa pada saat menggelar aksi unjuk rasa atau demonstrasi tersebut, tidak sedikit justru sebenarnya kurang memahami bagaimana poin penting yang hendak disampaikan atau dituntut.

Berkaitan dengan hal tersebut, sebenarnya adanya kebijakan dari pemerintah berupa Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang mewajibkan para pekerja menjadi pesertanya dan memotong 2,5 persen dari gaji itu mendatangkan banyak sekali manfaat.

Menurut Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika bahwa keberadaan Tapera sendiri sangat bermanfaat untuk membantu pembiayaan rumah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan meringankan cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Hal tersebut terjadi karena penerima manfaat Tapera akan mendapatkan insentif bunga yang rendah, yakni hanya 5 persen saja, sehingga cicilan KPR mereka bisa menjadi lebih murah. Bukan tanpa alasan hal tersebut terjadi, pasalnya memang kebijakan itu menjadi semangat pemerintah untuk menyediakan rumah bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali, termasuk mereka dengan penghasilan rendah.

Untuk para pekerja yang sudah memiliki rumah, mereka juga masih bisa mendapatkan manfaat secara positif dari keberadaan Tabungan Perumahan Rakyat, yakni berupa pemupukan dana tabungan di akhir masa kepesertaannya, sehingga menjadi seperti layaknya berinvestasi.

Sementara itu, Ketua Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan Rakyat (Himppera), Ari Tri Priyono menilai bahwa kebijakan baru dari pemerintah tersebut akan sangat membantu kepada seluruh masyarakat untuk memiliki rumah.

Potongan uang dari Tapera sendiri juga tidak akan hilang dan dapat sangat bermanfaat bagi segenap masyarakat, utamanya bagi para pekerja Indonesia yang masih berusia muda dan membutuhkan tempat tinggal.

Hal senada juga disampaikan Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI), K.H. Ma’ruf Amin, menurutnya kebijakan Tapera memang merupakan upaya pemerintah untuk mendorong masyarakat agar bisa saling membantu dalam memiliki rumah.

Karena adanya kebijakan tersebut memungkinkan masyarakat yang mungkin masih belum memiliki rumah bisa mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR), mereka yang sudah ada tanah juga mampu mengajukan kredit pembangunan rumah (KBR), atau yang sudah memiliki rumah tetap bisa mengajukan kredit renovasi rumah (KRR).

Bahkan, misalnya ada masyarakat yang sudah tidak membutuhkan ketiga hal tersebut, sejatinya keberadaan Tabungan Perumahan Rakyat juga masih sangat berfungsi karena akan sekaligus menjadi tabungan dan nantinya akan dikembalikan dengan imbal hasil.

Oleh karena itu, apabila masih saja terdapat beberapa dari masyarakat yang justru mengadakan aksi unjuk rasa atau demonstrasi mengenai kebijakan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), bisa jadi mereka kurang tersosialisasi dan teredukasi mengenai apa sebenarnya manfaat besar dari kebijakan baru tersebut. Selain itu, kemungkinan lain adalah aksi demonstrasi yang berlangsung hanya ditunggangi oleh pihak tidak bertanggung jawab tertentu demi kepentingan mereka sendiri, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak terprovokasi untuk mengikuti aksi tersebut.

)* Penulis adalah kontributor Persada Institute

Produktivitas Padi Didorong Melalui Perluasan Akses Benih Bersubsidi bagi Petani

September 10, 2026

Subsidi Benih Padi Dorong Peningkatan Produktivitas Petani dan Ketahanan Pangan

September 10, 2026

Produktivitas Padi Didorong Melalui Perluasan Akses Benih Bersubsidi bagi Petani

By Kata IndonesiaSeptember 10, 20260

Produktivitas Padi Didorong Melalui Perluasan Akses Benih Bersubsidi bagi Petani Jakarta – Kementerian Pertanian mendorong…

Subsidi Benih Padi Dorong Peningkatan Produktivitas Petani dan Ketahanan Pangan

By Kata IndonesiaSeptember 10, 20260

Subsidi Benih Padi Dorong Peningkatan Produktivitas Petani dan Ketahanan Pangan Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan)…

Keluar dari Middle Income Trap, Ekonomi yang Tumbuh Lebih Berani

By Kata IndonesiaSeptember 10, 20260

Keluar dari Middle Income Trap, Ekonomi yang Tumbuh Lebih Berani Oleh : Rivka Mayangsar Di…

Sinergi Pusat dan Daerah, Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

By Kata IndonesiaSeptember 10, 20260

Sinergi Pusat dan Daerah, Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap Oleh: Adnan Ramdani Upaya Indonesia untuk keluar dari middle income trap atau jebakan pendapatan menengah membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Indonesia perlu memastikan pertumbuhan tersebut berlangsung secara berkualitas, produktif, merata, dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Dalam konteks tersebut, sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi salah satu fondasi penting untuk mempercepat transformasi ekonomi menuju Indonesia sebagai negara berpendapatan tinggi. Tantangan tersebut semakin relevan karena perekonomian nasional tidak berdiri sendiri. Pertumbuhan ekonomi nasional merupakan akumulasi dari kinerja ekonomi daerah. Karena itu, kebijakan pusat yang baik perlu diterjemahkan menjadi program konkret di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Sebaliknya, berbagai potensi ekonomi daerah harus mendapatkan dukungan regulasi, pembiayaan, infrastruktur, dan kepastian investasi dari pemerintah pusat. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegaskan pentingnya peran bersama pemerintah pusat dan daerah dalam mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi, Tito menyampaikan bahwa Indonesia perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk keluar dari middle income trap. Pihaknya menekankan bahwa konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, serta ekspor merupakan komponen penting yang harus dioptimalkan secara bersama.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.