Oleh: Hafyz Marshal (Pimpinan Redaksi Kataindonesia.com)
Seperti yang dapat kita lihat di semua kanal berita dan media, PKB dengan ketua partai nya yakni Cak Imin sudah disahkan bekerjasama dengan partai Nasdem dan Cak Imin menjadi cawapres yang akan menemani Anies Baswedan di Pemilihan Presiden tahun 2024 ini. Spotlight yang begitu terang tentunya menuju kepada ‘pengantin baru’ yakni Anies-Muhaimin, namun apa kabarnya dengan yang di luar spotlight?
PKB merupakan sebuah partai yang memiliki loyalitas tinggi terhadap sesuatu yang mereka jalani, namun semua orang memiliki batas kesabarannya masing-masing dimana batas kesabaran partai PKB sudah mencapai puncaknya dalam mendukung Prabowo sebagai calon presiden di pemilu tahun 2024. Banyak sekali hal-hal yang membuat PKB naik pitam terhadap Prabowo, mulai dari silat lidah yang tidak kunjung selesai, janji manis yang ditawarkan, hingga arogansi dari Prabowo. Karena mungkin sudah muak dengan PHP demi PHP yang terjadi dan batas kesabaran sudah di titik maksimal, PKB memutuskan untuk putus hubungan koalisi dengan Prabowo dan membiarkan Prabowo berjuang dengan sisa-sisa partai koalisi yang lain. Langkah dari PKB ini adalah Langkah yang paling benar yang dapat diambil, yaitu keluar dari koalisi karena jika calon pemimpin sudah tidak searah dengan partai koalisi, lalu apa gunanya partai pendukung? Karena sejatinya calon pemimpin harus merupakan seseorang yang klop, memiliki tujuan yang sama, berkomitmen, dan dapat bekerjasama dengan partai-partai koalisinya. PKB dan Prabowo sudah melanggar peraturan pertama dalam berkoalisi yakni mereka tidak klop satu sama lain dan tidak dapat lagi bekerjasama. Hal ini tak lain dan tak bukan adalah karena tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh Prabowo. Ia berlaku semena-mena terhadap partai yang mengusungnya dengan janji palsu serta arogansi nya.
Akibat dari pindahnya PKB ke koalisi lain karena Cak Imin menjadi korban PHP dari Prabowo, kini koalisi Prabowo yang biasa disebut Koalisi Indonesia Maju tersebut jadi oleng karena kehilangan salah satu partai besar dalam Koalisi Indonesia Maju. Sayap sekarang sedang berat kepada Partai Golkar dimana Golkar merupakan salah satu dari partai terbesar yang bergabung dengan Koalisi Indonesia Maju usungan Prabowo Subianto. Setelah ingkar dan arogan kepada PKB, kini Prabowo kacau balau pastinya. Hal tersebut dikarenakan nasib kelanjutan dari Prabowo sedang berada di tangan Golkar dimana setelah kepergian PKB, bargaining power yang dimiliki oleh Partai Golkar melonjak secara tajam dan cawapres yang akan maju Bersama Prabowo kemungkinan besar berada di tangan Golkar. Akankah Prabowo ditemani oleh ketum Golkar, Airlangga Hartanto, di pemilihan umum tahun 2024?
Secara teknis, Prabowo sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi dan hanya tinggal menunggu langkah apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Partai Golkar. Hal ini menandakan bahwa Partai Golkar sudah berada di posisi lebih atas dibandingkan Prabowo, dimana Prabowo di sini hanyalah seorang sandera dari Partai Golkar yang memohon jalan keluar dan hanya menunggu langkah Golkar selanjutnya saja. Prabowo juga harus hati-hati dengan sikapnya yang arogan dan suka berjanji manis, karena satu-satunya harapan yang ia punya hanyalah Partai Golkar. Jika Golkar ‘baper’ atau muak dengan karakter dari Prabowo, bisa saja Partai Golkar keluar dari Koalisi Indonesia Maju dan berpindah ke koalisi lain dengan pemimpin yang lebih ‘waras’ dibanding Prabowo. Prabowo sekarang hidup di bawah bayang-bayang Partai Golkar dan ketakutan ditinggal oleh partai besar tersebut.