Kominfo bersama DPR-RI melaksanakan seminar live straming bertemakan “Berkah Ramadhan, Bijak Bermedia Sosial” yang diisi Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini selaku Anggota Komisi I DPR RI, KH. Taufik Damas, Lc selaku Dai Muda/Muballigh Virtual, Nirmala Firdaus selaku Pegiat Medsos yang mana dalam seminar live streaming tersebut Bambang Gunawan selaku Direktur Informasi dan Komunikasi Politik memberikan sambutan sebagai berikut “Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang multikultural yang terdiri dari beragam suku, bangsa, agama, bahasa dan lain-lain.
Dengan adanya keberagaman sebagai corak pluralisme masyarakat menjadikan hal itu sebagai penguat dalam kehidupan berbangsa, membina identitas bangsa memerlukan upaya yang berkesinambungan seluruh warga negara Indonesia berdasarkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, perlu hidup tanpa diskriminasi, penuh toleransi dan menghindari berbagai perasaan curiga satu dengan yang lain dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan antara suku, agama dan golongan itu tidak akan memisahkan, namun justru memperkeras dan memperkaya kehidupan saudara-saudara yang saya banggakan, Indonesia menghadapi tantangan terutama di era teknologi informasi seperti saat ini, sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar keempat di dunia, internet di Indonesia telah mencapai 202 juta orang atau 73% dari total 274 jumlah penduduk pada tahun 2020.
Kondisi ini bagai pisau bermata dua bagi pengguna internet di Indonesia terutama generasi milenial dengan rentang usia 20-34 tahun yang menjadi pengguna mayoritas internet, banyak informasi positif yang bisa diperoleh dari penggunaan internet di sisi lain internet terutama di media sosial dibanjiri informasi negatif tak terkecuali tentang hoax covid-19, vaksin, ujaran kebencian, provokasi, radikalisme, terorisme dan ekstrimisme propaganda tentang radikalisme dan terorisme saat ini dalam beragam bentuk dari tulisan, gambar, maupun video yang disebarkan melalui internet, seperti melalui media daring dan media sosial, kumpulan informasi negatif terkait radikalisme di media sosial ini dapat mempengaruhi persepsi masyarakat dan berpotensi merusak sendi-sendi kebangsaan, jika tidak siap menghadapi banjir dan informasi negatif maka dapat mengancam keutuhan NKRI, warganet juga dihimbau untuk mensukseskan vaksinasi yang telah menjadi program pemerintah dan tidak dipungut biaya untuk seluruh lapisan masyarakat, bahkan Presiden Joko Widodo telah bersedia untuk di vaksin pertama kali sehingga tidak perlu lagi meragukan komitmen pemerintah dan keandalan vaksin, vaksin tersebut telah dibuat dengan penelitian laboratorium dan ujicoba yang sangat ketat, bertahap dan dibawa dengan kontainer khusus ke Indonesia, dan implementasi protokol kesehatan adalah harapan Indonesia sehat dan bangkit dengan cepat di tengah banyak negara yang kesulitan untuk mendapatkan vaksin.
Indonesia berhasil mendapatkan kepercayaan dari produsen maka karena itu kita harus positif dan optimis dengan program ini, generasi milenial merupakan pengguna terbesar memiliki peranan yang sangat penting dalam mengkonsumsi, membuat dan menyebarkan konten positif yang menyejukkan dan menginspirasi untuk kemajuan bangsa, generasi milenial harus berani mengambil sikap melawan informasi, pemerintah tentunya membutuhkan bantuan dari semua pihak untuk melawan radikalisme dan sistem informasi yang menyediakan berbagai platform untuk melaporkan konten negatif di dunia maya melalui aduankonten dan tidak hanya menyediakan infrastruktur, tetapi juga menyediakan berbagai pelatihan, bimbingan teknis dan beasiswa untuk pemanfaatan TIK yang inovatif dan positif, sehingga akan lahir unicorn-unicorn baru di negara ini, DPR bersama pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui gerakan literasi secara gencar membangun kesadaran masyarakat, bahwa sesungguhnya adalah satu keluarga dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai ikatan saudara, sebangsa dan setanah air.
Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini menyampaikan “Dalam konteks menggunakan sosial media agar senantiasa bisa bijaksana, memang mau tidak mau setidaknya menjadikan sosial media ini sebagai platform di dalam melakukan aktivitas apapun maka sering sekali ada pertanyaan, apakah social media ini sebuah keniscayaan, dalam pandangan saya social media ini sekarang adalah merupakan sesuatu yang bersifat imperatif sesuatu yang bersifat keharusan.
Karena masyarakat ini sekarang sudah berubah dari apa yang disebut sebagai physical space menuju apa yang disebut sebagai cyber space yaitu ruang yang serba fisik, pendidikan mengarah kepada pendidikan menggunakan platform digital, ekonomi juga mengarah kepada ekonomi digital, bahkan dalam bidang keagamaan dakwah ini juga mengenal yang disebut dengan dakwah virtual, menyampaikan bahwa organisasi kemasyarakatan yang tidak menjadikan sosial media sebagai platform di dalam berdakwahnya, maka bersiap-siaplah menjadi fosil sejarah, bahkan berbagai macam survei telah menunjukkan lebih dari separuh penduduk Indonesia setiap tahunnya terus bertambah secara sangat signifikan.
Bahwa mereka semuanya ini sudah terhubung dengan gadget, jadi mulai dari bangun tidur sampai dengan kembali menjelang tidur, tangan kita selalu bersentuhan dengan gadget, survei lebih dari 6 jam dalam sehari bahkan lebih dari itu bisa 8-9 jam itu menggunakan sosial media, kalau hari ini berseliweran konten-konten yang cenderung mungkin provokatif, cenderung memecah-belah umat atau cenderung menjadikan agama sebagai sesuatu yang mengerikan, mari kita yang tidak setuju dengan konten ini juga harus melakukan apa yang disebut sebagai kontra narasi, kita juga harus menghadirkan narasi positif di tengah-tengah masyarakat, agar masyarakat tidak menjadikan informasi yang seperti itu hoax, fitnah sebagai suatu kebenaran, maka diperlukanlah literasi di dalam bermedia sosial, yang di harapkan ini hadir dari seluruh kalangan membangun sebuah kesadaran kolektif, bahwa tanggung jawab untuk membangun rasa positif di sosial media itu adalah tanggung jawab bersama.
KH. Taufik Damas, Lc selaku Dai Muda/Muballigh Virtual menyampaikan bahwa “Di bulan ramadan ini menarik memang bicara tentang media sosial, saya juga termasuk orang yang aktif dan media sosial baik di Facebook, baik di Instagram ataupun juga di Twitter, memang begini bisa dibilang anugerah tapi juga anugerah itu kalau salah mengelola itu bisa jadi bencana, sekarang di negara itu berada di era demokrasi yang luar biasa, di satu sisi jadi orang bebas bicara apapun, seandainya tanpa ada media sosial pun orang itu boleh bicara melalui medium-medium seperti demonstrasi, bikin panggung bebas dan lain sebagainya, ditambah lagi ada media sosial ini sebetulnya sesuatu yang membuat orang itu lebih terbuka dan lebih berani mengungkapkan yang keren di media sosial itu seringkali impersonal, jadi ngomong dengan orang gak kenal atau ada orang bahkan mungkin bikin akun palsu dan lain sebagainya, yang menarik dulu ada kawan santri yang memiliki kemampuan bisa membaca pikiran orang lain, akhirnya karena dia stress mengetahui apa yang dipikirkan orang, lalu dia minta sama Tuhan untuk dihilangkan kemampuannya, setelah dihilangkan jadi nyaman dan bisa bergaul dengan orang seperti biasa, dan ada juga kalo bertemu dengan pakar-pakar ahli pembaca gerak tubuh bahkan juga mimik wajah bisa tahu apa yang sedang dipikirkan, dua cara ini bukan cara yang mudah untuk bisa membaca pikiran orang baik yang seorang santri tadi ataupun pendekatan yang ilmiah membaca pikiran melalui gerak tubuh dan wajah.
Manfaat mempelajari dua itu bisa membaca pikiran orang melalui media sosial, dari media sosial itu bisa tahu ini orang wataknya seperti ini, walaupun kalau ketemu sama orang yang asli atau sebelumnya sudah kenal, tahu bahkan orang ini pendiam, kalau diajak bicara itu aja gagap tidak mudah menumpahkan fikirannya, tapi begitu dia main media sosial sudah tahu apa yang dia pikirkan, bisa baca dia, dia tipikal orang yang terbuka atau tertutup, main atau tidak, dia benci apa dia cinta, apa dia tipe orang yang fanatik atau tidak itu bisa lihat melalui media sosial.
Media sosial ini sebetulnya di samping memanfaatkannya sebagai anugerah kemajuan akal pikir manusia dengan teknologi komunikasi dan informasi yang sedemikian canggih plus iklim demokrasi itu dibutuhkan manusia-manusia dewasa untuk memanfaatkan itu agar keadaan menjadi lebih baik, saya akan sangat salut bagi mereka yang mampu menggunakan media sosial itu untuk bisnis umpamanya menambah penjualan, menambah objek dan konsep dan lain sebagainya.
Banyak hal yang miris dan menghawatirkan media sosial ini menjadi sarana dimana kepakaran itu jadi tidak berarti, karena banyak orang yang tidak pakar ikut bicara soal sesuatu yang dikatakan benar yang sangat membahayakan, jadi itu salah satunya tapi secara umum di bidang ilmu apa pun sekarang ini sedang mengalami era dimana para pakar itu mengalami revisian, ada banyak orang soal penjamin umpamanya yang bukan ahli biologi itu berani bicara tentang pandemi.
Bukan Dokter berani bicara tentang kesehatan, bukan pakar ekonomi berani ngomong soal ekonomi, termasuk soal agama banyak tokoh-tokoh yang baru lahir yang sebetulnya latar pendidikan keagamaanya itu tidak mumpuni, tapi berani mengeluarkan opini atau kalau dalam bahasa agama yaitu fatwa yang kemudian itu membuat kehidupan keberagamaan juga menjadi kurang harmonis.
Berpandangan positif bahwa pada akhirnya bangsa Indonesia ini memiliki benteng batin yang cukup kuat untuk menghadapi era keterbukaan seperti sekarang ini dan kita sudah melewati itulah sejak ramainya Pilkada kemudian Pilpres itu kan seolah-olah kita ini mengalami keterbelahan yang luar biasa, orang sudah membayangkan gampang sekali ketika itu akan terjadi konflik di tengah masyarakat, Alhamdulillah sampai sekarang kita masih menjadi bangsa yang kokoh yang tidak ada konflik berdarah di antara anak bangsa ini, walaupun secara narasi masih berkembang di media sosial, kita harus melawan itu kalau ada narasi-narasi yang cenderung memecah belah bangsa harus kita lawan.
Dalam kesempatan yang sama Nirmala Firdaus selaku Pegiat Medsos menyampaikan bahwa “Berkah ramadhan, bijak bermedia sosial, masalah itu di kalangan muda sekarang mau tidak mau harus mengikuti, apa sih yang di gunakan di media sosial itu di bulan ramadhan ini positifnya apa negatifnya, banyak anak-anak di kalangan milenial sekarang berpengaruh banget di setiap alasannya semua, apalagi TikTok bahkan menurut pandangan saya selaku milenial yang sebenarnya orang tua, bahkan ketika orang dewasa yang usianya melebihi batas 35 tahun ke atas mereka pun juga perlu namanya edukasi, yang sedang beranggapan kalau yang kita bahas masalah, apa sih yang bisa di gunakan dari mencari rezeki di media sosial ini, bisa banget tapi tidak punya modal, sekarang bisa pakai sistem dropship sekarang bisa, jadi kan yang cuma karena joget-joget, pasang-pasang baju dijual, bukan hanya sekedar mereka lucu-lucuan di media sosial atau senang-senang, hura-hura, itu sisi-sisi yang baiknya yang kurang baiknya ya jangan, konten kita share menjadi viral sedangkan konten itu tidak bagus history-history kita itu akan selalu terdeteksi di media, kita udah hapus belum tentu, ada saja orang yang berita itu yang tadinya dia sudah hapus tapi tiba-tiba karena ada screenshot kita bisa membikin viral.
Jadi maksudnya di saring sebelum sharing apapun itu, mendingan ramadhan ini ya mendingan jualan-jualan, atau membuat narasi di Twitter yang bagus, bikin berapa narasi-narasi untuk kayak ceramah-ceramah gitu, itu kan juga pahalanya besar.