• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Covid-19 Masih Ganas, Terapkan Protokol Kesehatan Secara Ketat

Covid-19 Masih Ganas, Terapkan Protokol Kesehatan Secara Ketat

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 24 September 2020

Oleh : Agung Priyatna

Penyebaran corona makin ganas. Bahkan ada lonjakan pasien beberapa hari ini. Hal ini membuat banyak orang sedih karena sudah lelah dengan pandemi dan mengharap agar segera berakhir. Seharusnya mereka juga sadar untuk lebih disiplin lagi dalam menjalankan protokol kesehatan, agar tidak ada lagi penularan corona.

Tanggal 20 september 2020 menjadi rekor karena ada 3.989 kasus positif corona di Indonesia. Totalnya ada 244.676 pasien yang terjangkit virus covid-19 di negri ini. Meroketnya jumlah pasien dari 2.000-an ke angka nyaris 4.000-an per hari membuat kita harus makin waspada. Apalagi makin banyak orang tanpa gejala yang ada di lingkungan sekitar.

Baca juga: GENERASI MILENIAL SEBAGAI PELOPOR MENETRALISIR BERITA HOAX

Sebenarnya apa yang jadi penyebab jumlah pasien melonjak drastis? Pertama, karena ada penambahan frekuensi rapid test di banyak tempat. Semakin banyak tes tentu menjaring banyak orang yang ternyata positif corona. Mereka bisa segera diselamatkan dan mendapat perawatan maksimal.

Penyebab kedua dari meningkatnya jumlah pasien corona adalah kedisiplinan dalam menaati protokol kesehatan yang menurun drastis. Saat awal pandemi, kita selalu pakai masker dan face shield serta mengurung diri di rumah. Namun ketika fase adaptasi kebiasaan baru, mulai ceroboh dengan melepas masker dan melanggar aturan jaga jarak.

Aturan physical distancing banyak dilanggar pasca idul adha beberapa saat lalu, karena dianggap bulan yang baik untuk menikah. Banyak orang tak mengindahkan protokol kesehatan dan mengundang ratusan tamu, padahal seharusnya maksimal 30 orang yang boleh menghadiri akad nikah. Miris sekali karena aturan disepelekan hanya karena gengsi.

Saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberlakukan PSBB tahap 2, tanggal 14 september, maka ada warga yang langsung pulang kampung. Menurut mereka, lebih baik langsung pergi daripada dibatasi pergerakannya. Padahal hal ini juga berbahaya karena bisa jadi mereka adaah OTG yang malah menularkan corona ke keluarganya di kampung.

Jika makin banyak orang yang tidak tertib, kapan pandemi akan selesai? Kita tentu ingin hidup normal seperti dulu, tapi sayang masih malas untuk menerapkan kedisiplinan. Saat dterapkan denda karena tidak pakai masker, aparat dan pemerintah yang disalahkan. Padahal aturan ini demi keselamatan kita sendiri.

Ada cara yang bisa dicoba agar masyarakat tertib menaati protokol kesehatan. Pertama dengan memperbanyak pembagian masker gratis. Untuk anak-anak maka mereka bisa diberi masker dengan gambar tokoh kartun yang disukai. Menurut Dokter Raisa, efektivitas penggunaan masker terjadi saat minimal 70% orang memakainya dalam 1 lingkungan. Jadi masker amat penting.

Yang kedua, jika ada yang jadi orang tanpa gejala atau sudah kena corona dan harus isolasi mandiri, jangan malah dijauhi. Pihak RT dan RW bisa bekerja sama untuk memberi bantuan berupa sembako dan paket makanan, agar ia tak perlu keluar rumah untuk membelinya. Plastik paket makanan cukup ditaruh di pagar rumah. Hal ini bisa mencegah kontak fisik di luar huniannya.

Vaksin corona juga masih dalam tahap percobaan, dan saat ini kita hanya bisa memperkuat imunitas tubuh. Dalam 1 kampung bisa berkolaborasi. Misalnya ketika ada yang memiliki kebun sayur, membagikan sebagian hasilnya ke tetangga yang membutuhkan. Tidak semua orang mampu membeli makanan bergizi, karena banyak pegawai yang gajinya dikurangi akibat efek pandemi.

Jangan pernah lupa untuk menaati protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, membawa hand sanitizer, dan menghindar kerumunan. Kita harus makin waspada karena menurut penelitian WHO, virus covid-19 bisa menular lewat udara yang kotor dan pengap. Jangan pernah turunkan masker saat di luar rumah dan segera mandi keramas saat tiba di rumah.

Penulis aktif dalam Gerakan Mahasiswa Jakarta

Koperasi Merah Putih Ditargetkan Beroperasi Oktober 2026

September 14, 2026

Ekonomi Syariah RI Naik Kelas, dari Potensi Besar menjadi Kekuatan Global

September 14, 2026

Koperasi Merah Putih Ditargetkan Beroperasi Oktober 2026

By Kata IndonesiaSeptember 14, 20260

Koperasi Merah Putih Ditargetkan Beroperasi Oktober 2026 Jakarta – Pemerintah menargetkan sekitar 40 ribu Koperasi…

Ekonomi Syariah RI Naik Kelas, dari Potensi Besar menjadi Kekuatan Global

By Kata IndonesiaSeptember 14, 20260

Ekonomi Syariah RI Naik Kelas, dari Potensi Besar menjadi Kekuatan Global Oleh : Gavin Asadit…

Ekonomi Syariah Membuktikan Indonesia Bisa Memimpin Industri Halal Dunia

By Kata IndonesiaSeptember 14, 20260

Ekonomi Syariah Membuktikan Indonesia Bisa Memimpin Industri Halal Dunia  Oleh Tri Lestari Indonesia sedang berada pada momentum penting untuk membuktikan bahwa ekonomi syariah bukan sekadar sektor pelengkap dalam perekonomian nasional, melainkan salah satu kekuatan strategis yang dapat mengantarkan Indonesia menjadi pemimpin industri halal dunia. Dengan jumlah penduduk muslim yang besar, basis pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang luas, serta berkembangnya industri keuangan syariah, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk memainkan peran lebih besar dalam rantai ekonomi halal global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa kekuatan ekonomi syariah Indonesia telah mencapai sekitar Rp3.131 triliun. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat keempat sebagai negara dengan ekonomi syariah terbesar di dunia. Posisi ini menunjukkan bahwa ekonomi syariah Indonesia telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang memiliki daya saing dan tidak lagi hanya berorientasi pada pasar domestik. Yang lebih menarik, Indonesia telah menjadi produsen nomor satu untuk sejumlah produk halal, termasuk sektor mode dan busana muslim. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengubah besarnya pasar muslim menjadi kekuatan produksi. Kekuatan tersebut semakin ditopang oleh ekosistem sertifikasi halal yang terus berkembang. Airlangga menyebutkan bahwa Indonesia telah memiliki sekitar 4,4 juta sertifikat halal. Besarnya jumlah sertifikasi ini menjadi modal penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat posisi produk Indonesia di pasar internasional. Namun, tantangannya adalah memastikan agar sertifikasi halal tidak berhenti sebagai kewajiban administratif, tetapi menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk. Oleh karenanya, kebijakan pemerintah diarahkan untuk membuat proses sertifikasi semakin mudah, murah, cepat, dan terintegrasi dengan program pengembangan usaha. Langkah pemerintah dalam membangun akses pasar internasional juga menjadi faktor penting. Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki mutual recognition arrangement atau agreement dengan 39 negara. Kerja sama tersebut membuka peluang agar produk halal Indonesia dapat lebih mudah diterima di berbagai pasar global. Artinya, sertifikasi halal dapat menjadi pintu masuk bagi produk UMKM Indonesia untuk menembus pasar dunia, bukan sekadar menjadi tanda kepatuhan di pasar domestik. Di sisi lain, kekuatan ekonomi syariah Indonesia memiliki sumber daya sosial yang jauh lebih luas daripada sekadar sektor komersial. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf atau ZISWAF memiliki potensi besar untuk menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengoptimalkan zakat, infak, sedekah, jariah, hibah, wasiat, dan berbagai sumber keagamaan lainnya. Optimalisasi dana sosial tersebut dapat memperkuat upaya pengentasan kemiskinan sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi umat. Potensi tersebut akan semakin besar apabila keuangan komersial dan keuangan sosial syariah dapat diintegrasikan secara lebih sistematis. Dana zakat dan wakaf, misalnya, dapat diarahkan untuk memperkuat kapasitas kelompok masyarakat produktif, sementara pembiayaan perbankan syariah dapat menopang pengembangan usaha yang telah memiliki prospek komersial. Sinergi semacam ini akan membuat ekonomi syariah memiliki dampak yang lebih luas terhadap pemerataan kesejahteraan.…

Ber-NU dengan Gembira: Hentikan Tengkar Narasi, Kembali Pada Semangat Qonun Asasi

By Kata IndonesiaSeptember 14, 20260

Oleh: KH Anis Maftukhin Syahdan, Mbah Hasyim Asy’ari pernah menyitir sebuah syair Arab berabad silam…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.