• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Swasembada Energi Dinilai Mampu Dongkrak Efek Berganda Ekonomi

Swasembada Energi Dinilai Mampu Dongkrak Efek Berganda Ekonomi

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 7 February 2026

Swasembada Energi Dinilai Mampu Dongkrak Efek Berganda Ekonomi

Jakarta – Pemerintah semakin menegaskan komitmennya untuk mewujudkan swasembada energi, sebuah agenda yang kini menjadi pilar penting dalam strategi pembangunan nasional untuk memperkuat ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, dan mendongkrak lapangan pekerjaan.

 

Target ini semakin mendapat sorotan publik setelah Presiden Prabowo Subianto, mengangkatnya sebagai fondasi strategi transformasi bangsa dalam konteks sinergi pembangunan pusat dan daerah pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026.

 

Dalam arahannya di hadapan para kepala daerah, Presiden Prabowo berulang kali menekankan pentingnya energi nasional yang kuat sebagai kunci menuju kemandirian bangsa secara menyeluruh. Ia menjelaskan bahwa swasembada pangan dan energi tidak sekadar target simbolis, tetapi fondasi nyata untuk memperkuat produktivitas nasional dan kesejahteraan rakyat.

 

“Swasembada pangan dan energi adalah fondasi utama dari strategi transformasi bangsa yang saya tawarkan dan saya jalankan sekarang. Kita punya kelebihan-kelebihan luar biasa. Kalau kita mau merdeka, kalau kita mau sejahtera, kita harus jamin produksi pangan dan energi sehingga bisa dinikmati oleh seluruh rakyat kita,” ujar Presiden.

 

Ketua Harian DEN sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa arah kebijakan energi kabinet kini difokuskan pada empat pilar strategis: kedaulatan energi, ketahanan energi, kemandirian energi, dan akhirnya swasembada energi.

 

“Salah satu program prioritas Bapak Presiden Prabowo adalah menyangkut kedaulatan energi, ketahanan energi, kemandirian energi, dan pada akhirnya swasembada energi. Salah satu instrumen negara untuk mewujudkan itu adalah melalui arah kebijakan dan roadmap yang dibangun bersama Dewan Energi Nasional,” ucap Bahlil.

 

Menurut Bahlil, strategi yang digulirkan mencakup peningkatan kapasitas produksi minyak dan gas domestik, percepatan transisi ke energi baru dan terbarukan seperti biofuel dan tenaga surya, serta pengembangan infrastructure storage untuk memperkuat cadangan nasional. Pemerintah juga tengah mengupayakan peningkatan pemanfaatan campuran bioetanol dalam bahan bakar, yang dapat mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil secara signifikan pada tahun-tahun mendatang.

 

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyoroti pentingnya pembentukan DEN sebagai motor percepatan koordinasi lintas sektor dalam mencapai target swasembada energi. Ia menjelaskan bahwa meskipun sejumlah program teknis telah berjalan, sinergi antar lembaga dan daerah melalui DEN akan mempercepat implementasi program prioritas tersebut.

 

“Harapannya dengan kehadiran Dewan Energi Nasional, semakin bisa mempercepat proses persiapan untuk kita mengejar beberapa program-program prioritas menuju swasembada energi,” kata Prasetyo.

 

Ekonom dan pelaku usaha menyambut positif langkah pemerintah ini, menilai bahwa momentum swasembada energi tidak hanya akan menyokong stabilitas pasokan nasional tetapi juga membuka peluang investasi, mendorong value chain industri energi hilir, dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor strategis. Sentimen optimistis ini turut diperkuat oleh kebijakan pengembangan biodiesel B40 dan rencana wajib bioetanol 10 % pada tahun 2028.

 

Dengan langkah strategis yang terukur dan dukungan kuat dari seluruh pemangku kepentingan, pemerintah yakin bahwa era swasembada energi akan menjadi kenyataan dalam beberapa tahun mendatang. Keberhasilan ini dipandang bukan sekadar capaian teknokratis, tetapi juga dorongan efek berganda yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi nasional.***

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pengamat Politik Ungkap Mayoritas Publik Puas

October 22, 2026

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Penguatan SDM dan Ketahanan Ekonomi Jadi Modal Pembangunan

October 22, 2026

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pengamat Politik Ungkap Mayoritas Publik Puas

By Kata IndonesiaOctober 22, 20260

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pengamat Politik Ungkap Mayoritas Publik Puas JAKARTA – Dua tahun pemerintahan Presiden…

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Penguatan SDM dan Ketahanan Ekonomi Jadi Modal Pembangunan

By Kata IndonesiaOctober 22, 20260

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Penguatan SDM dan Ketahanan Ekonomi Jadi Modal Pembangunan JAKARTA — Dua tahun…

Dua Tahun Prabowo-Gibran, DEN Nilai Fondasi Ekonomi Nasional Semakin Kuat

By Kata IndonesiaOctober 22, 20260

Dua Tahun Prabowo-Gibran, DEN Nilai Fondasi Ekonomi Nasional Semakin Kuat JAKARTA – Ketahanan ekonomi dan…

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Resiliensi Makroekonomi di Tengah Fragmentasi Geopolitik

By Kata IndonesiaOctober 22, 20260

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Resiliensi Makroekonomi di Tengah Fragmentasi Geopolitik  Oleh: Pamella Dewi Lorena Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum mengevaluasi ketahanan ekonomi Indonesia. Di tengah ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan internasional, dan risiko gangguan iklim, perekonomian nasional tetap mencatat pertumbuhan di atas lima persen. Namun, resiliensi makroekonomi perlu ditelaah melalui produktivitas, daya beli, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, stabilitas tidak semata ditentukan pertumbuhan produk domestik bruto. Stabilitas harga, kesinambungan investasi, ketahanan produksi, serta efektivitas kebijakan sosial merupakan indikator yang saling berkaitan. Pertumbuhan berkelanjutan membutuhkan fondasi struktural agar perekonomian tidak rentan terhadap tekanan eksternal. Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mochammad Firman Hidayat, menilai perkembangan ekonomi Indonesia harus ditempatkan dalam konteks tantangan global yang kompleks. Perubahan kebijakan ekonomi Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, konflik geopolitik, peperangan, serta fenomena El Niño menjadi faktor eksternal yang turut memengaruhi aktivitas perekonomian. Menurut Firman, berbagai tekanan tersebut tidak menghalangi Indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas lima persen dengan inflasi relatif terkendali. Kebijakan hilirisasi juga menjadi instrumen penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi melalui peningkatan aktivitas produksi dan penciptaan nilai tambah domestik. Ketahanan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan stabilitas jangka pendek dengan transformasi ekonomi jangka panjang. Stabilitas makroekonomi menyediakan ruang investasi, sedangkan hilirisasi berpotensi memperkuat struktur industri nasional. Meski demikian, kontribusinya terhadap produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan pendapatan masyarakat perlu terus dievaluasi. …

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.