• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Pilkada Berbiaya Tinggi, Pengamat Pemilu Ramdansyah Minta Parpol Usung Kadernya Sendiri 

Pilkada Berbiaya Tinggi, Pengamat Pemilu Ramdansyah Minta Parpol Usung Kadernya Sendiri 

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 24 January 2026

JAKARTA – Dalam kurang waktu sebulan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penangkapan terhadap tiga kepala daerah. Pada bulan Desember 2025, terhadap Ade Kuswara Bupati Bekasi. Pada Januari 2026 ini terhadap Sudewo Bupati Pati dan Maidi Walikota Madiun.

Ade Kuswara ditangkap KPK karena diduga melakukan praktik Ijon untuk proyek yang ada di wilayahnya. Sudewo diduga melakukan kegiatan ilegal praktik jual beli jabatan kepala desa. Maidi diduga melakukan pemerasan dengan alasan dana Corporate Social Responsibilty (CSR).

Operasi tangkap tangan (OTT) terhadap sejumlah kepala daerah membuat pemerintah prihatin. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah merasa prihatin atas kembali terjadinya OTT yang melibatkan kepala daerah. Juru bicara (jubir) presiden itu menilai, kasus tersebut menunjukkan bahwa praktik korupsi masih mengakar. Dibutuhkan upaya bersama untuk diberantas secara konsisten.

Sementara itu, penangkapan kepala daerah oleh KPK juga membuat masyarakat kecewa dan pegiat demokrasi kecewa. Hingga kemudian wacana pemilihan tidak langsung, yang sudah meredup, kembali bergulir.

“Ketika penangkapan-penangkapan ini tengah berlangsung, Isu pemilihan kepala daerah tidak langsung juga turut muncul. Publik seolah bertanya apakah ada hubungannya. Memang, tidak bisa dikaitkan secara langsung, tetapi frasa yang pas adalah ketiganya lagi apes,” ujar Pengamat Pemilu dari Rumah Demokrasi Ramdansyah saat Dialog Interaktif di Radio Elshinta, Rabu malam (21/1/2026) yang bertajuk “Biaya tinggi dibalik maraknya Operasi Tangkap Tangan Kepala Daerah, Solusinya?”.

 

Ramdansyah yang pernah menjadi Ketua Panwaslu DKI Jakarta pada Pilkada Jakarta, mengatakan grafik yang pernah dibuat oleh KPK, OTT terhadap kepala daerah karena beberapa hal.

“Ada beberapa pola korupsi kepala daerah. Selain 3 bentuk korupsi yang dilakukan oleh Ade Kuswara, Sudewo dan Maidi ada juga bentuk-bentuk korupsi lainnya. Bentuknya seperti suap untuk perizinan, penyalahgunaan anggaran, pencucian uang atau TPPU. Ada juga terkait karena alasan yang naif seperti ketidaktahuan akan perbuatan tersebut. Hal ini bisa terjadi ketika kepala daerahnya bukan berasal dari ASN seperti Camat, Sekda atau pernah menjabat jabatan di struktur pemerintahan.,” ujar Ramdansyah

“Biasanya kalau dari kalangan non pejabat struktural, keberhasilan menjadi kepala daerah, maka merasa layak mendapatkan hadiah. Ada pesta dirayakan itu hal biasa karena itu bagian dari atau imbal balik. Padahal pemberian diatas Rp1 juta yang tidak dilaporkan ke KPK itu adalah penyuapan,” imbuhnya.

Variabel ini muncul jelas Ramdansyah, karena dia menjadi kepala daerah harus balik modal tentunya. Kemudian kenapa memberikan katakanlah jual beli proyek karena yang menjadi calon kepala daerah dia dibantu atau didukung oleh mereka yang punya perusahaan sehingga ada balas jasa.

“Nah tentu saja ada varian-varian lain, seperti ijon proyek proyek karena sudah dimenangkan oleh tim sukses tadi dan suap jabatan,” ujarnya.

Variabel lainnya adalah biaya yang mahal yang harus dikeluarkan untuk menjadi seorang kepala daerah. Bahkan untuk menjadi kepala desa juga harus menyiapkan uang miliaran.

“Saya mengutip buku Presiden Prabowo tahun 2020 sebelum menjadi presiden, bukunya berjudul “Paradoks Indonesia”. Di sana Presiden sudah menyebutkan bahwa pilkada langsung bahkan di tingkat desa terjadi transaksi nilai mencapai Rp1 miliar. Lalau bagaimanan, kalau pemilihan di tingkat kabupaten/kota angkanya bisa saja mencapai Rp20-30 miliar,” jelas Ramdansyah.

Mahalnya biaya politik jelas Ramdansyah, menjadi salah satu alasan untuk dilakukannya pemilihan tidak langsung. Lalu apa yang harus dilakukan Parpol. Agar mereka yang diusung dan kemudian terpilih menjadi kepala daerah benar-benar beritegritas?

“Pemilihan kepala daerah pintu masuknya adalah partai politik. Dia harus mendapatkan rekomendasi dari ketua umum dan sekjen partai. Karena ini pintu masuknya adalah partai politik maka saya berharap partai politik itu seharusnya mendorong kadernya sebagai calon kepala daerah. Karena kalau dia tidak mendorong kadernya sebagai calon kepala daerah, namun memilih calon yang punya uang maka potensi seperti yang tadi kita bahas,” jelas Ramdansyah.

“Dengan mengusung kadernya Partai politik melakukan regenerasi sehingga kadernya juga bekerja maksimal. Mereka yang sudah bekerja puluhan tahun di partai itu harusnya layak diusung oleh partainya menjadi calon kepala daerah,” pungkasnya.

“Nah dua hal ini yang menurut saya perlu dicermati. Karena korupsi yang terjadi ditingkat kepala daerah mendorong banyak orang menginginkan pilkada tidak langsung karena adanya ongkos politik yang terlalu mahal. Butuh kembali balik modal cepat,” jelas Ramdansyah.

Mereka tahu pilkada biaya tinggi, tetapi kenapa masih mau mencalonkan dan rela melakukan itu? Persoalannya jelas Ramdansyah ada filter yang tidak berjalan di partai politik.

“Ketika partai politik itu mau membesarkan partainya, maka yang wajib dipilih adalah kader partai. Tetapi yang terjadi hari ini adalah partai politik melakukan transaksi. Namanya mahar politik. Pertimbangan bukan kader partai, karena pertimbangan ekonomi. Siapa yang mampu untuk memenuhi syarat kursi untuk pencalonan. Satu kursi nilainya misalkan Rp1 miliar atau Rp500 juta kalikan berapa kursi,” ujar Kabid Kepemiluan Majelis Nasional KAHMI.

“Sehingga MK kemudian memberikan batasan yang tadinya 20 persen terkait pencalonan kepala daerah diturunkan menjadi 6,5% hingga 10%. Ini salah satu cara cukup ampuh meminimalkan mahar politik,” imbuh Ramdansyah.

Tetapi pada Pilkada 2024 lalu, jelas Ramdansyah, yang kita lihat praktek mahar politik tetap terjadi. Partai politik lebih tertarik menjaring calon kepala daerah bukan berasal dari kader partainya itu sendiri.

“Tetapi lebih kepada mereka yang sanggup membayar terkait dengan mahar politik,” ujarnya

Untuk mengurangi biaya pemilu yang tinggi, Ramdansyah mengusulkan pemilihan dilakukan e-voting. Kecuali di wilayah yang tidak ada jaringan internetnya

“Bentuk e-voting ini sudah waktunya diterapkan. Sekarang juga sudah jamannya Articial Intellegence melebih jaman koneksi internet. Sekarang isu yang pas bukan lagi pilkada langsung atau tidak langsung yang diduga berbahaya tinggi, tetapi bagaimana proses pemilihan memudahkan rakyat dan murah. Menurut saya jawaban yang paling tepat sekarang adalah e-voting,” ujarnya.

Pembekalan Antikorupsi Menjadi Langkah Penting Menjaga Tata Kelola Daerah

August 11, 2026

Pembekalan Antikorupsi Kepala Daerah Diperluas Perkuat Tata Kelola Daerah

August 11, 2026

Pembekalan Antikorupsi Menjadi Langkah Penting Menjaga Tata Kelola Daerah

By Kata IndonesiaAugust 11, 20260

Pembekalan Antikorupsi Menjadi Langkah Penting Menjaga Tata Kelola Daerah Oleh: Dhita Karuniawati Upaya membangun pemerintahan…

Pembekalan Antikorupsi Kepala Daerah Diperluas Perkuat Tata Kelola Daerah

By Kata IndonesiaAugust 11, 20260

Pembekalan Antikorupsi Kepala Daerah Diperluas Perkuat Tata Kelola Daerah Jakarta – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi,…

Pemberantasan Korupsi Daerah Diperkuat lewat Pembinaan Integritas Kepala Daerah

By Kata IndonesiaAugust 11, 20260

Pemberantasan Korupsi Daerah Diperkuat lewat Pembinaan Integritas Kepala Daerah Jakarta – Upaya pemberantasan korupsi di…

Aman dan Nyaman, Mari Sambut HUT RI dengan Tenang dan Gembira 

By Kata IndonesiaAugust 11, 20260

Aman dan Nyaman, Mari Sambut HUT RI dengan Tenang dan Gembira  Oleh : Abdul Razak Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan momentum yang tidak hanya sarat makna sejarah, tetapi juga menjadi kesempatan bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan, optimisme, dan semangat gotong royong. Di tengah dinamika global serta derasnya arus informasi di ruang digital, masyarakat diharapkan dapat menyambut hari kemerdekaan dengan suasana yang aman, nyaman, dan penuh kegembiraan. Komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional sekaligus mempercepat pembangunan kembali ditunjukkan melalui langkah Presiden Prabowo Subianto yang mengumpulkan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali, serta Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Mohamad Tonny Harjono di Istana Merdeka. Dalam pertemuan tersebut, Presiden menerima laporan mengenai berbagai program strategis TNI yang terus berjalan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa pembahasan tidak hanya berfokus pada aspek pertahanan negara, tetapi juga mencakup berbagai capaian pembangunan yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Menurut Teddy, pemerintah memberikan perhatian besar terhadap percepatan pembangunan 2.500 jembatan desa yang ditargetkan selesai pada Agustus 2026, pembangunan 3.000 titik air bersih di berbagai wilayah Indonesia, serta perluasan program listrik masuk desa yang menjadi bagian dari upaya pemerataan pembangunan nasional. Teddy juga menjelaskan bahwa Presiden Prabowo memberikan arahan khusus agar TNI menghadirkan sesuatu yang spesial bagi masyarakat dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Arahan tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Bhakti Sosial TNI secara serentak di seluruh Indonesia sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Menurutnya, berbagai program tersebut menunjukkan bahwa TNI tidak hanya berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan negara, tetapi juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperluas akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar dan mempercepat pemerataan pembangunan. Langkah tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan nasional tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan pelayanan dasar yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Infrastruktur desa, akses air bersih, maupun jaringan listrik merupakan fondasi penting bagi peningkatan kualitas hidup sekaligus penguatan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah. …

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.