• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Pidato Presiden Prabowo di PBB Perkokoh Peran Indonesia dalam Perdamaian Global

Pidato Presiden Prabowo di PBB Perkokoh Peran Indonesia dalam Perdamaian Global

  • Kata Indonesia
  • - Monday, 22 September 2025

Pidato Presiden Prabowo di PBB Perkokoh Peran Indonesia dalam Perdamaian Global

Oleh : Muhammad Abduh

Presiden Prabowo Subianto tampil di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 sebagai pemimpin negara yang menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia.

Kehadiran langsung seorang Kepala Negara setelah lebih dari satu dekade absen menghadirkan sinyal kuat bahwa diplomasi tingkat tinggi Indonesia kembali menempati panggung global. Momentum tersebut tidak hanya menunjukkan arah politik luar negeri yang bebas aktif, tetapi juga mempertegas posisi Indonesia sebagai jembatan strategis antara negara maju dan berkembang.

 

Pidato yang disampaikan di forum bergengsi itu menandai pergeseran penting peta diplomasi internasional, yakni dukungan penuh Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara.

 

Isu Palestina menjadi sorotan karena menyangkut prinsip keadilan dan kedaulatan, dua nilai yang dijunjung tinggi oleh Indonesia sejak awal merdeka. Pidato tersebut mempertegas peran Indonesia sebagai kekuatan moderat yang mampu menyuarakan kepentingan bangsa tertindas sekaligus menawarkan jalan tengah terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.

 

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Anton Sukartono Suratto, menilai pidato Presiden Prabowo menjadi wujud kepemimpinan Indonesia di tingkat global. Anton memandang sorotan utama pada isu Palestina menunjukkan bahwa Indonesia konsisten memperjuangkan kedaulatan bangsa lain melalui jalur damai.

 

Indonesia juga mengemban tanggung jawab moral untuk memperkuat solidaritas negara-negara Selatan dalam menghadapi ketidakadilan ekonomi global. Pidato tersebut, menurut Anton, mendorong agar lembaga-lembaga internasional seperti PBB, IMF, dan Bank Dunia lebih responsif terhadap kebutuhan negara berkembang. Baginya, diplomasi Prabowo membuka ruang baru untuk menginspirasi negara lain dalam memperjuangkan kemandirian ekonomi.

 

Anton juga menekankan aspek peningkatan kapasitas nasional. Pidato Presiden menampilkan citra Indonesia sebagai negara yang tidak hanya konsisten dalam diplomasi damai, tetapi juga mampu memperlihatkan perkembangan signifikan di bidang teknologi dan pertahanan.

 

Bagi Anton, hal ini menjadi bagian penting dalam memperkuat pengaruh Indonesia di mata dunia. Ia menilai pidato tersebut berhasil menggambarkan Indonesia sebagai negara yang menyeimbangkan antara kekuatan militer, kemajuan ekonomi, dan kontribusi moral terhadap perdamaian global.

 

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberikan perspektif yang menekankan nilai strategis kehadiran Prabowo di PBB. Menurutnya, tampil pada urutan ketiga setelah Brasil dan Amerika Serikat merupakan bukti pengakuan internasional atas posisi penting Indonesia., melainkan pengakuan internasional terhadap peran penting Indonesia.

 

Bagi Teddy, pidato Presiden bukan sekadar rutinitas diplomatik, melainkan pernyataan politik luar negeri yang menegaskan kepemimpinan Indonesia di antara negara-negara berkembang. Ia melihat forum tersebut sebagai panggung bagi Indonesia untuk menyuarakan reformasi tata kelola dunia yang lebih adil, inklusif, dan berbasis pada kerja sama.

 

Teddy menilai bahwa momentum ini menjadi bukti bahwa diplomasi tingkat tinggi Indonesia kembali aktif di forum paling prestisius. Ia menyebut kehadiran Presiden sebagai sebuah titik balik setelah sepuluh tahun Indonesia hanya diwakili oleh menteri luar negeri. Dengan demikian, pidato Prabowo memperkuat kembali tradisi diplomasi aktif yang selalu melekat dalam identitas politik luar negeri Indonesia.

 

Sementara itu, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyoroti dimensi historis dari pidato tersebut. Dino melihat kehadiran Prabowo sebagai kelanjutan perjuangan diplomasi yang pernah dirintis oleh ayahnya, Prof. Sumitro Djojohadikusumo.

 

Pada periode 1948–1949, Prof. Sumitro memainkan peran penting dalam memperjuangkan kedaulatan Indonesia di PBB dengan menggugat agresi militer Belanda. Dino menilai pidato Prabowo menghidupkan kembali semangat yang sama, yaitu memperkokoh multilateralisme sebagai jalan keluar dari krisis global.

 

Dino memandang bahwa di tengah tantangan kerja sama internasional yang melemah, Indonesia justru hadir sebagai motor penggerak multilateralisme. Ia menilai Indonesia memiliki kapasitas unik untuk menjadi jembatan antara kepentingan negara maju dan negara berkembang. Baginya, pesan yang disampaikan Prabowo mempertegas peran Indonesia sebagai pemimpin Global South yang mampu memberikan alternatif solusi di tengah ketegangan geopolitik dunia.

 

Konteks historis dan simbolis dalam pidato tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia tidak hanya hadir sebagai partisipan, melainkan sebagai penggerak agenda global. Peran aktif dalam memperjuangkan reformasi tata kelola dunia menunjukkan bahwa Indonesia berusaha melampaui kepentingan domestik dan tampil sebagai aktor penting dalam menjaga stabilitas internasional. Hal ini sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang selalu memilih jalan tengah dan mengutamakan dialog dalam menyelesaikan konflik.

 

Pidato Presiden Prabowo di PBB menjadi momen penting yang memperlihatkan konsistensi politik luar negeri bebas aktif. Diplomasi yang ditegaskan melalui forum tersebut menampilkan Indonesia sebagai negara yang tidak ragu menyuarakan kepentingan bangsa tertindas, memperjuangkan keadilan ekonomi, serta mengedepankan kerja sama internasional.

 

Momentum tersebut memperkokoh posisi Indonesia dalam percaturan global, sekaligus menegaskan bahwa diplomasi damai tetap menjadi landasan utama dalam membangun dunia yang lebih adil dan berkeadaban.

 

Dengan menegaskan dukungan terhadap Palestina, memperkuat solidaritas negara Selatan, menghidupkan kembali semangat multilateralisme, serta mengulang kembali jejak diplomasi historis Prof. Sumitro, pidato Prabowo menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam menjaga perdamaian dunia.

 

Kehadiran Presiden di forum PBB menjadi pengingat bahwa peran Indonesia dalam diplomasi internasional bukan sekadar simbolis, melainkan nyata, aktif, dan relevan dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang. (*)

 

)* Penulis merupakan pengamat hubungan internasional

Melindungi Anak dan Remaja dari Rekrutmen Terorisme Digital

July 29, 2026

Negara Makin Bersiap Melawan Terorisme Digital 

July 29, 2026

Melindungi Anak dan Remaja dari Rekrutmen Terorisme Digital

By Kata IndonesiaJuly 29, 20260

Melindungi Anak dan Remaja dari Rekrutmen Terorisme Digital Oleh: Dhita Karuniawati Perkembangan teknologi digital telah…

Negara Makin Bersiap Melawan Terorisme Digital 

By Kata IndonesiaJuly 29, 20260

Negara Makin Bersiap Melawan Terorisme Digital  Oleh : Gavin Asadit Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak manfaat bagi masyarakat, mulai dari kemudahan akses informasi hingga percepatan transformasi ekonomi. Namun, di balik berbagai peluang tersebut, ruang siber juga menghadirkan tantangan baru berupa penyebaran paham radikal, propaganda ekstremisme, rekrutmen anggota kelompok teror, hingga pendanaan terorisme melalui platform digital. Pemerintah memandang ancaman tersebut sebagai bentuk baru terorisme yang membutuhkan pendekatan penanganan yang lebih adaptif dan kolaboratif. Oleh karena itu, sepanjang 2026 pemerintah terus memperkuat strategi nasional dalam menghadapi terorisme digital melalui sinergi antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), aparat penegak hukum, penyelenggara platform digital, serta masyarakat. Perubahan pola penyebaran paham radikal menjadi perhatian serius pemerintah. Jika sebelumnya proses radikalisasi banyak berlangsung melalui pertemuan langsung, kini media sosial, aplikasi percakapan, forum daring, hingga berbagai platform digital menjadi sarana utama penyebaran propaganda. Laporan tren terorisme yang dipublikasikan BNPT bersama UNDP menunjukkan bahwa sebagian pelaku tindak pidana terorisme dalam beberapa tahun terakhir pertama kali terpapar konten ekstremis melalui internet, bahkan terdapat pelaku yang seluruh aktivitas radikalisasinya berlangsung di ruang digital. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terorisme kini semakin bergeser ke ranah siber sehingga strategi pencegahan harus ikut bertransformasi dengan memperkuat literasi digital, pengawasan ruang siber, serta ketahanan masyarakat terhadap propaganda ekstremisme. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Polisi Eddy Hartono, menegaskan bahwa pencegahan terorisme tidak lagi hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga harus mengedepankan upaya preventif melalui penguatan ketahanan masyarakat di ruang digital. Menurutnya, BNPT terus memperkuat strategi kontra narasi, meningkatkan kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait, serta memperluas edukasi kepada generasi muda agar mampu mengenali dan menolak berbagai bentuk propaganda ekstremisme yang beredar melalui internet. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci karena ancaman digital berkembang sangat cepat dan tidak mengenal batas wilayah. Sejalan dengan penguatan strategi pencegahan, pemerintah juga memperkuat tata kelola ruang digital melalui berbagai regulasi dan kebijakan. Kementerian Komunikasi dan Digital terus meningkatkan kerja sama dengan BNPT dalam mempersempit ruang gerak penyebaran konten radikal, termasuk melalui implementasi kebijakan perlindungan anak di ruang digital dan peningkatan pengawasan terhadap platform digital. Pemerintah menilai bahwa ruang digital yang sehat harus dibangun melalui keseimbangan antara perlindungan kebebasan berekspresi dan perlindungan masyarakat dari konten yang mengandung unsur radikalisme, kekerasan, maupun propaganda terorisme. Pendekatan tersebut dilakukan secara bertahap melalui penguatan sistem pengawasan, peningkatan literasi digital, serta koordinasi dengan penyelenggara platform digital nasional maupun global. …

Terorisme Digital Makin Adaptif, Pemerintah Perkuat Kolaborasi Pencegahan Ekstremisme

By Kata IndonesiaJuly 29, 20260

Terorisme Digital Makin Adaptif, Pemerintah Perkuat Kolaborasi Pencegahan Ekstremisme Jakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah…

Pemerintah Mitigasi Terorisme Digital, 250 Anak Terpapar Ekstremisme Dibina dan Direhabilitasi

By Kata IndonesiaJuly 29, 20260

Pemerintah Mitigasi Terorisme Digital, 250 Anak Terpapar Ekstremisme Dibina dan Direhabilitasi Jakarta – Pemerintah terus…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.