• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Pemerintah Tekankan Pendekatan Humanis untuk Pemulihan Korban Penyalahgunaan Narkoba

Pemerintah Tekankan Pendekatan Humanis untuk Pemulihan Korban Penyalahgunaan Narkoba

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 11 January 2025

Pemerintah Tekankan Pendekatan Humanis untuk Pemulihan Korban Penyalahgunaan Narkoba

Oleh: Dara Azzahra

Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam menangani permasalahan narkoba dengan menekankan pendekatan humanis, khususnya terhadap para pengguna dan korban penyalahgunaan narkotika. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan solusi yang tidak hanya berfokus pada hukuman, tetapi juga pada pemulihan individu. Langkah ini sejalan dengan visi menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan bebas dari ancaman narkoba.

Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Kejaksaan Agung, Asep Mulyana, menegaskan pentingnya pendekatan restorative justice dalam penanganan pengguna, pecandu, dan korban penyalahgunaan narkotika. Menurutnya, kebijakan ini didasari Pedoman Jaksa Agung Nomor 18 Tahun 2021, yang menekankan rehabilitasi sebagai alternatif hukuman bagi pelaku yang memenuhi kriteria tertentu.

Asep juga menyoroti perlunya profesionalisme dalam penanganan perkara narkotika dan menegakkan keadilan yang berorientasi pada pemulihan. Langkah ini tidak hanya membantu individu yang terdampak, tetapi juga berkontribusi pada upaya nasional dalam mengurangi dampak sosial penyalahgunaan narkoba.

Pemerintah telah mengoperasikan 116 balai rehabilitasi di berbagai daerah sebagai bagian dari strategi ini. Meski masih terdapat kendala seperti distribusi fasilitas yang belum merata, Asep menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sumber daya manusia, infrastruktur, dan metode rehabilitasi. Hal ini bertujuan memastikan bahwa layanan rehabilitasi tidak hanya tersedia, tetapi juga berkualitas dan efektif dalam membantu korban pulih dari ketergantungan narkoba.
Selain rehabilitasi, penguatan kerja sama lintas sektor menjadi prioritas pemerintah. Asep menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga pesantren untuk memperluas fasilitas rehabilitasi. Kampanye kesadaran anti-narkoba juga menjadi bagian penting dari langkah preventif.
Dengan melibatkan sekolah, keluarga, dan komunitas sosial, diharapkan masyarakat memiliki daya tahan lebih baik terhadap ancaman narkotika. Pemerintah juga berupaya memanfaatkan teknologi untuk memetakan jaringan peredaran narkoba, termasuk yang beroperasi di dunia maya, guna mengantisipasi pola-pola baru peredaran narkoba.
Pendekatan humanis serupa juga diterapkan di tingkat daerah. Polres Pelabuhan Makassar, di bawah kepemimpinan AKBP Restu Wijayanto, telah menunjukkan langkah konkret dalam menangani kasus narkoba dengan pendekatan empati. Restu menegaskan bahwa pemusnahan barang bukti narkoba baru-baru ini tidak hanya menjadi simbol penegakan hukum, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen untuk memberikan kesempatan kedua kepada pelaku muda yang terjerat.
Dalam salah satu kasus, pelaku yang masih berusia muda mendapatkan rehabilitasi sesuai Pasal 54 Undang-Undang Narkotika, yang mengatur kewajiban rehabilitasi medis dan sosial bagi korban penyalahgunaan.
Langkah ini mencerminkan keseimbangan antara hukum dan kemanusiaan. Restu meyakini bahwa rehabilitasi adalah solusi untuk menyelamatkan masa depan generasi muda, sehingga mereka tidak terjebak lebih dalam dalam lingkaran kejahatan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa generasi muda yang sempat salah langkah masih memiliki peluang untuk kembali ke jalan yang benar dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Di sisi lain, Polres Purwakarta juga memberikan perhatian pada penanganan kasus narkoba dengan pendekatan yang serupa. Dalam sebuah kasus baru-baru ini, tiga pengguna sabu yang ditangkap menjalani proses asesmen oleh Tim Asesmen Terpadu (TAT). Tim ini melibatkan BNNK Karawang, Polres Purwakarta, tim medis, dan kejaksaan setempat untuk mengevaluasi status mereka.
Ketiganya direkomendasikan untuk rehabilitasi karena dianggap sebagai pengguna, bukan pengedar atau residivis. Pendekatan yang dipimpin oleh AKP Yudi Wahyudi ini menekankan bahwa rehabilitasi adalah langkah penting untuk memutus rantai ketergantungan dan membantu individu pulih.
Selain langkah rehabilitasi, upaya preventif juga dilakukan melalui edukasi dan kampanye kesadaran. Yudi mengajak masyarakat untuk aktif melaporkan penyalahgunaan narkoba demi menciptakan lingkungan yang bebas dari ancaman narkoba. Ia menegaskan bahwa pendekatan yang humanis tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga menjadi bagian dari strategi yang lebih luas dalam melindungi masyarakat dari dampak narkoba.
Namun, pemerintah tidak menutup mata terhadap tantangan besar yang masih ada. Salah satu isu serius adalah peredaran narkoba di lembaga pemasyarakatan. Untuk itu, pemerintah bersama aparat hukum berkomitmen memutus rantai peredaran narkoba di lapas melalui pengawasan ketat dan pemberian hukuman maksimal kepada pelaku utama dalam jaringan peredaran gelap.
Penggunaan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) juga dioptimalkan untuk menjerat aktor utama sekaligus merampas hasil kejahatan narkotika. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menyeluruh dalam memberantas peredaran narkoba hingga ke akar-akarnya.
Dengan pendekatan yang holistik ini, pemerintah berharap dapat menciptakan keseimbangan antara penegakan hukum dan pemulihan individu. Pendekatan berbasis kemanusiaan ini memberikan harapan baru bagi para korban untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih baik. Komitmen ini juga menjadi bukti bahwa pemerintah serius menangani masalah narkoba dengan cara yang lebih inklusif dan berorientasi pada masa depan.
Melalui sinergi antara pemerintah, aparat hukum, dan masyarakat, upaya pemberantasan narkoba dapat terus diperkuat. Pendekatan yang mengutamakan empati, rehabilitasi, dan keadilan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dukungan dari semua pihak, terutama keluarga dan komunitas lokal, menjadi kunci dalam membangun generasi mendatang yang bebas dari ancaman narkoba. Pemerintah percaya bahwa dengan komitmen yang kuat dan langkah-langkah strategis, cita-cita Indonesia bebas narkoba dapat terwujud.

)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara

Koperasi Merah Putih: Senjata Melawan Penimbunan dan Rentenir

August 27, 2026

Pemerintah Arahkan Koperasi Merah Putih Jadi Jalur Baru Cegah Kebocoran Subsidi

August 27, 2026

Koperasi Merah Putih: Senjata Melawan Penimbunan dan Rentenir

By Kata IndonesiaAugust 27, 20260

Koperasi Merah Putih: Senjata Melawan Penimbunan dan Rentenir Oleh : Gavin Asadit Pemerintah terus memperkuat…

Pemerintah Arahkan Koperasi Merah Putih Jadi Jalur Baru Cegah Kebocoran Subsidi

By Kata IndonesiaAugust 27, 20260

Pemerintah Arahkan Koperasi Merah Putih Jadi Jalur Baru Cegah Kebocoran Subsidi Jakarta – Pemerintah terus…

Pemerintah Pangkas Rantai Distribusi Subsidi lewat Koperasi Merah Putih

By Kata IndonesiaAugust 27, 20260

Pemerintah Pangkas Rantai Distribusi Subsidi lewat Koperasi Merah Putih INDRAMAYU — Pemerintah terus mematangkan pembangunan…

Komitmen Jaga Kualitas, Pemerintah Terima Kritik terhadap MBG

By Kata IndonesiaAugust 27, 20260

Komitmen Jaga Kualitas, Pemerintah Terima Kritik terhadap MBG Oleh : Irfan Aditya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan prioritas pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kecukupan gizi peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam membangun generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Dengan cakupan penerima manfaat yang terus bertambah di berbagai daerah, pemerintah menyadari bahwa pelaksanaan program berskala nasional ini harus diiringi dengan standar kualitas yang tinggi. Oleh karena itu, berbagai kritik dan masukan dari masyarakat dipandang sebagai bagian penting dalam proses penyempurnaan kebijakan agar manfaat MBG dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh penerima. Dalam setiap kebijakan publik, kritik merupakan bentuk partisipasi masyarakat yang perlu diapresiasi. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya bergantung pada perencanaan yang baik, tetapi juga pada kemampuan melakukan evaluasi secara berkelanjutan. Masukan mengenai kualitas makanan, ketepatan distribusi, kebersihan dapur, maupun pelayanan di lapangan menjadi indikator penting untuk memperbaiki sistem yang sudah berjalan. Pendekatan yang terbuka terhadap kritik menunjukkan bahwa pemerintah mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan kualitas manusia sebagai prioritas utama pemerintahan. Melalui Program Makan Bergizi Gratis, pemerintah berupaya memastikan bahwa setiap anak Indonesia memperoleh akses terhadap makanan yang sehat, aman, dan bergizi. Dalam berbagai kesempatan, Presiden menegaskan bahwa pelaksanaan program harus terus dievaluasi agar kualitas layanan tetap terjaga sekaligus mampu menjawab berbagai tantangan yang muncul selama implementasi. Komitmen pemerintah dalam menerima kritik juga tercermin dari pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai masukan masyarakat terkait pelaksanaan MBG. Menurutnya, evaluasi merupakan bagian dari proses memperkuat tata kelola program sehingga seluruh rantai penyediaan pangan, mulai dari pengadaan bahan baku hingga penyajian makanan, dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan. Pihaknya menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar kualitas pelayanan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pelaksanaan program. Pandangan senada disampaikan oleh Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, yang menilai pengawasan terhadap Program Makan Bergizi Gratis harus terus diperkuat seiring meningkatnya jumlah penerima manfaat. Menurutnya, DPR RI mendukung penuh keberlanjutan program tersebut, namun pelaksanaannya harus disertai pengawasan yang ketat agar setiap makanan yang diterima masyarakat benar-benar memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan. Pihaknya juga menekankan bahwa kritik dari masyarakat hendaknya dijadikan bahan evaluasi bersama sehingga pemerintah dapat melakukan perbaikan secara cepat dan tepat tanpa mengurangi tujuan utama program.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.