Menjelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menghangat. Merespons hal tersebut, Gerakan Kebangkitan Nahdliyin Muda (Gerbang Nada) menggelar diskusi internal bertajuk *”Sosok Yang Tepat Untuk PBNU 2026-2031″* bertempat di Pondok Pesantren WALI, Salatiga, pada Senin (24/8/2026).
Diskusi ini menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, KH Ahmad Badawi Basyir, sebagai narasumber tunggal. Melalui kacamata sosiologis dan *ilmu titen* ala pesantren, KH Ahmad Badawi Basyir membedah niat serta motivasi para calon nakhoda PBNU menjadi empat golongan—dari tingkatan yang paling bawah hingga profil puncak yang paling dirindukan umat.
Berikut adalah pemetaan empat golongan calon pemimpin PBNU hasil diskusi Gerbang Nada:
1. Golongan Oportunis (Si Numpang Nampang / Pengejar Panggung)
Golongan ini tidak memiliki kapasitas suara untuk maju lewat jalur *voting* dan namanya tidak masuk dalam hitungan musyawarah para kiai sepuh. Deklarasi pencalonan mereka dinilai sekadar untuk mencari panggung (panjat sosial) demi menaikkan nilai tawar politik. Ujungnya, posisi tersebut rentan dijadikan alat tawar transaksional atau “politik dagang sapi” pasca-Muktamar. Watak ini dinilai jauh dari adab kepesantrenan.
2. Golongan Pragmatis (Si Pemuja Angka dan Logistik)
Tipe kandidat ini sangat antusias bertarung lewat jalur *voting*, namun menolak dan menghindar jika ditunjuk melalui musyawarah mufakat (AHWA). Mereka memandang Muktamar layaknya gelanggang politik praktis yang diukur dengan angka, logistik, dan pamer kekuatan struktural. Jika golongan ini memimpin, PBNU berisiko bergeser menjadi sekadar mesin massa yang kering ruh dan sarat transaksi material, serta melunturkan tradisi *tabarrukan* kepada kiai sepuh.
3. Golongan Elitis (Si Ndoro Gengsi / Ogah Berkeringat)
Kebalikan dari golongan pragmatis, golongan elitis hanya mau ditunjuk langsung tetapi enggan turun ke gelanggang *voting*. Motivasi utamanya adalah mengamankan kedudukan berlindung di balik karisma kiai, nasab, atau kedekatan dengan kekuasaan. Karena enggan berkeringat menyapa akar rumput (cabang dan ranting), pemimpin karpet merah semacam ini memiliki legitimasi yang keropos di bawah dan rentan menjadi otoriter karena hanya mengandalkan SK administrasi.
4. Golongan Santri Tulen (Sang Ksatria Tawaduk)
Ini adalah profil pemimpin yang paling paripurna. Beliau siap diuji dalam *voting*, namun juga *sami’na wa atha’na* (tunduk patuh) jika ditunjuk. Sebagai ksatria, ia menghargai kedaulatan suara daerah dan tak segan beradu gagasan. Namun, ketika kiai sepuh turun tangan mengetuk palu musyawarah demi keutuhan jam’iyah, ia akan langsung menundukkan ego dan ambisinya.
Dalam paparannya, KH Ahmad Badawi Basyir menegaskan bahwa tantangan NU di abad kedua—mulai dari pemberdayaan ekonomi jamaah, gempuran digitalisasi, hingga suhu politik yang memanas—membutuhkan nakhoda dari Golongan Keempat.
“Kriteria nakhoda yang kita cari wajib memiliki sifat Qowiyyun Amin seperti yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Qashash ayat 26. Qowiy berarti kuat tenaganya, cerdas intelektual dan manajerialnya, serta bermental baja. Sementara Amin berarti dapat dipercaya, niat khidmahnya murni, dan memiliki keikhlasan menundukkan ego di bawah titah para ulama,” ujar KH Ahmad Badawi Basyir.
Melalui siaran pers ini, Gerbang Nada mengajak seluruh pengurus cabang, wilayah, dan para muharrik NU untuk jeli dalam memilih. Hanya nakhoda yang memegang teguh perpaduan antara keberanian ksatria dan kelembutan adab santri yang mampu membawa bahtera besar Nahdlatul Ulama melaju kencang, selamat sampai tujuan, tanpa karam menabrak karang perpecahan.