Makna Toleransi di Mata Dua Pelajar Perancis

0

Sungguh membanggakan sebagai bangsa Indonesia, ketika kita mendengarkan pidato dan cerita orang asing belajar menggunakan Bahasa Indonesia. Itulah yang kami rasakan ketika mengikuti pidato dan cerita berbahasa Indonesia oleh dua pelajar Prancis yaitu Rémi Lemaire dan Andreea Viviana Popovici.

Keduanya mengangkat topik pidato dan cerita tentang toleransi. Rémi Lemaire adalah pelajar di Universitas Teknologi Compiègne, sedangkan Andreea Viviana Popovici adalah pelajar sarjana tingkat 2 di Inalco (Institut National des Langues et Civilisations Orientales).

Kegiatan lomba berpidato dan bercerita berbahasa Indonesia ini diadakan oleh KBRI Paris, yang di adakan di ruang Balai Budaya pada hari Rabu, 29 Mei 2019. Kegiatan dihadiri sekitar 50 orang penonton yang terdiri dari para pelajar di Inalco, masyarakat penggiat bahasa, dan beberapa staf KBRI. Juri dalam kegiatan ini adalah Ibu Bernadeta Sari Utami Sardjono, pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang juga seorang bibliothécaire, dan Ibu Nathalie Saraswati Wirja, seorang penerjemah dan juru bahasa.

Advertisement

Atdikbud KBRI Paris, Prof. Warsito dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan apresiasi BIPA, dan kepada merekalah kita berharap pengembangan Bahasa Indonesia khususnya untuk penutur asing dapat berjalan baik. Prof. Warsito melanjutkan bahwa di Prancis terdapat tiga lembaga yang secara konsisten mengembangkan pembelajaran Bahasa Indonesia, yaitu di Inalco Paris, di Universitas Le Havre, dan di Universitas La Rochelle. Secara khusus, di Universitas Le Havre – Normandie, Bahasa Indonesia diajarkan di jenjang Sarjana bidang Bahasa-bahasa Asing Terapan Inggris – Asia, dan program Master bidang Manajemen dan Perdagangan Internasional Eropa – Asia, sejak tahun 1995 an.

Yang unik lagi dari kedua pelajar ini adalah bahwa keduanya belum pernah ke Indonesia, untuk Rémi Lemaire mengenal dan belajar berbahasa Indonesia secara mandiri, Andreea Viviana Popovici adalah baru beberapa kali mengikuti perkuliahan bahasa Indonesia di Inalco. Rémi Lemaire berpidato sekitar 10 menit tentang toleransi dengan lancar, meskipun masih ada satu dua aksen bahasa yang masih kental Bahasa Prancis, namun menunjukkan kesungguhan dan cintanya kepada bahasa Indonesia. Isi pidato secara khusus memberikan pesan moral akan makna toleransi. Rémi memberikan contoh aksi teroris yang mengerikan, penembakan yang brutal di gereja beberapa waktu lalu, yang tidak ada empatinya sama sekali. Di akhir pidatonya, Rémi menyampaikan bahwa pemahaman, keterbukaan, dan penerimaan dari perbedaan, itulah toleransi.

Viviana mengangkat pesan toleransi dari kisa cerita timun mas yang berasal dari Jawa Tengah, bagaimana keangkuhan raksasa yang ingin memangsa gadis bernama Timun Mas yang akhirnya terkalahkan.

Kisah cerita diakhiri dengan hidup kedamaian Timun Mas dan Mbok Sani, karena raksasa telah binasa akibat ulah keangkuhannya maka tenggelam di lautan yang panas.

Anggota dewan juri memberikan komentar dan saran untuk perbaikan ke depannya kepada mereka berdua, khususnya yang masih sulit adalah prononsasi karena terlihat dari gestur/mimik ketika sedang menyampaikan maksud cerita atau isi pidato. Yang diapresiasi dari juri adalah tata Bahasa dan kelancaran, hal ini menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mudah dipelajari oleh siapa saja. Tepuk riuh penonton yang hadir mengakhiri kegiatan tersebut.

Kegiatan selanjutnya ditutup oleh Atdikbud dengan memberikan piagam penghargaan kepada Rémi Lemaire dan Andreea Viviana Popovici serta mengumumkan hadiah berupa kunjungan ke Indonesia yang ditanggung semua biayanya oleh Kementerian Pnedidikan dan Kebudayaan. Mereka berdua akan bersaing dengan peserta dari negara lainnya untuk memperoleh juara internasional yang nanti mendapatkan anugerah saat upacara 17 Agustus di Jakarta.

Selama di Indonesia, selain memperoleh pembinaan Bahasa Indonesia, semua peserta dari berbagai negara juga akan mengunjungi pusat-pusat kebudayaan di Indonesia, agar selanjutnya saat mereka kembali ke negara masing-masing mampu sebagai duta Bahasa Indonesia.

Info Lomba Terbaru