• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Kesuksesan WWF ke-10 Tunjukkan Kepemimpinan Indonesia di Pentas Global

Kesuksesan WWF ke-10 Tunjukkan Kepemimpinan Indonesia di Pentas Global

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 23 May 2024

Kesuksesan WWF ke-10 Tunjukkan Kepemimpinan Indonesia di Pentas Global

Oleh : Anindira Putri Maheswani

Indonesia telah sukses mencetak berbagai sejarah baru sepanjang perhelatan World Water Forum (WWF) ke-10. Dalam forum bergengsi yang membahas soal air secara global tersebut, Indonesia telah mendorong sejumlah kerja sama global mulai dari Deklarasi menteri hingga kerja sama 113 proyek senilai USD 9,4 Miliar.

Semua pandangan dunia kembali terarah kepada Indonesia yang telah sukses meraih sejumlah capaian dalam perhelatan World Water Forum ke-10 yang diadakan di kawasan Nusa Dua Bali. Dalam rangkaian acara yang digelar sejak 18-25 Mei 2024 Indonesia telah berhasil menorehkan sejumlah capaian prestius.

Terkait hal tersebut, Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono memaparkan bahwa sejumlah capaian positif pelaksanaan WWF ke-10. Salah satu capaian tersebut antara lain kehadiran peserta WWF ke-10 yang terhitung mencapai hingga 46 ribu peserta. Angka tersebut berhasil mengalahkan jumlah peserta di Brazil yang hanya mencapai 30 ribu orang. Namun demikian, dirinya mengungkapkan hal tersebut bukan karena dirinya maupun Menko Marves Luhur Binsar Pandjaitan, namun karena aura Pulau Bali. Pasalnya, Ketua Harian Panitia Nasional Penyelenggara WWF ke-10 itu hanya berekspektasi peserta yang hadir di WWF berkisar 13 sampai 15 ribu.
Keberhasilan Indonesia ini tentu saja semakin menambah panjang kesuksesan Indonesia menggelar banyak event berskala internasional. terlebih, Presiden World Water Council (WWC) Loic Fauchon mengatakan prestasi Indonesia meningkatkan standar WWF yang telah digelar 10 kali dalam 30 tahun.
Tak hanya dari keberhasilan jumlah peserta, Menteri Basuki turut memaparkan sejumlah perbedaan WWF ke-10 dibandingkan WWF yang pernah ada sebelumnya. Pertama, WWF ke-10 ini baru pertama kalinya digelar konferensi tingkat tinggi atau KTT para kepala negara karena biasanya tidak ada. Begitu forum dibuka langsung pada proses-proses biasa. Namun kemarin, ada pertemuan High Level Meeting yang yang dipimpin oleh kepala negara.
Kedua baru pertama kalinya disahkan deklarasi menteri yang dikategorikan dalam diplomatic victory dari Indonesia. Adapun capaian ketiga adalah berhasil menginventarisasi 113 proyek bersama dengan anggaran US$ 9,4 miliar.
Sebagai negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam, Indonesia memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi tantangan air, mulai dari kekurangan air bersih hingga kerusakan lingkungan akibat pengelolaan air yang tidak berkelanjutan. Dengan menjadi tuan rumah WWF ke-10, Indonesia tidak hanya memberikan platform bagi berbagai negara untuk berbagi pengalaman dan solusi, tetapi juga menunjukkan keseriusannya dalam memecahkan masalah air secara global.
Sementara sebagai pemimpin regional, Indonesia memiliki kesempatan untuk menginspirasi negara-negara lain dalam mengambil tindakan nyata untuk menjaga sumber daya air. Dengan menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengatasi tantangan air, Indonesia dapat mengubah peranannya dari sekadar peserta menjadi pemimpin dalam gerakan global untuk keberlanjutan air.
Salah satu nilai tambah dari WWF ke-10 adalah kemampuannya untuk memfasilitasi kerjasama antarbangsa dalam mengatasi tantangan air yang kompleks. Dengan dihadiri oleh berbagai negara, lembaga internasional, dan organisasi non-pemerintah, forum ini memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk membangun kemitraan yang kuat dan memperluas jaringan kerjasama dalam pengelolaan air.
Melalui kerjasama ini, Indonesia dapat mengakses sumber daya, teknologi, dan pengetahuan terbaru dalam mengembangkan solusi-solusi inovatif untuk masalah air. Selain itu, kerjasama internasional juga membuka pintu bagi Indonesia untuk memperoleh dukungan finansial dan teknis dalam mewujudkan proyek-proyek infrastruktur air yang berkelanjutan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa partisipasi Indonesia dalam WWF ke-10 juga merupakan bagian dari upaya diplomasi lingkungan yang lebih luas. Dalam menghadapi tantangan lingkungan global, termasuk perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, diplomasi lingkungan semakin menjadi fokus utama bagi banyak negara. Dengan aktif terlibat dalam forum-forum internasional seperti WWF, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai pemimpin regional dalam isu-isu lingkungan dan memperjuangkan kepentingan bersama dengan negara-negara lain.

Melalui diplomasi lingkungan yang kuat, Indonesia dapat mempromosikan prinsip-prinsip keberlanjutan, keadilan, dan tanggung jawab bersama dalam pengelolaan sumber daya air. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya memperjuangkan kepentingan nasionalnya sendiri, tetapi juga berkontribusi pada upaya global untuk menjaga keberlangsungan hidup bumi.

World Water Forum ke-10 telah memberikan momentum penting bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinannya dalam isu-isu lingkungan global, khususnya dalam pengelolaan air yang berkelanjutan. Sebagai tuan rumah, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkuat kerjasama antarbangsa, memperluas jaringan diplomasi lingkungan, dan mengambil langkah-langkah nyata dalam menjaga sumber daya air bagi generasi mendatang.

Peran aktif Indonesia dalam WWF ke-10 juga mencerminkan keseriusan negara dalam menangani masalah air di tingkat dunia. Selain itu, WWF ke-10 bukan hanya menjadi forum untuk berdiskusi, tetapi juga panggung bagi Indonesia untuk membuktikan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan air, dan memimpin gerakan global menuju masa depan yang lebih baik bagi semua. Oleh sebab itu, diperlukan apresiasi terhadap pemerintah yang telah berhasil mendorong berbagai rancangan deklarasi dan kerja sama nasional di bidang Air.

)* Penulis adalah kontributor Persada Institute

RUU Perampasan Aset Memberi Efek Jera Kejahatan Korupsi

September 23, 2026

Korupsi Rusak Kepercayaan Publik, RUU Perampasan Aset Dinilai Mendesak

September 23, 2026

RUU Perampasan Aset Memberi Efek Jera Kejahatan Korupsi

By Kata IndonesiaSeptember 23, 20260

RUU Perampasan Aset Memberi Efek Jera Kejahatan Korupsi Oleh : Jonathan Janoel Pembahasan Rancangan Undang-Undang…

Korupsi Rusak Kepercayaan Publik, RUU Perampasan Aset Dinilai Mendesak

By Kata IndonesiaSeptember 23, 20260

Korupsi Rusak Kepercayaan Publik, RUU Perampasan Aset Dinilai Mendesak JAKARTA – Upaya memperkuat pemberantasan korupsi…

RUU Perampasan Aset Didorong Jadi Instrumen Tegas Melawan Korupsi

By Kata IndonesiaSeptember 23, 20260

RUU Perampasan Aset Didorong Jadi Instrumen Tegas Melawan Korupsi JAKARTA — Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU)…

Penilaian MBG Menjadi Alat Koreksi agar Menu dan Distribusi Membaik

By Kata IndonesiaSeptember 23, 20260

Penilaian MBG Menjadi Alat Koreksi agar Menu dan Distribusi Membaik  Oleh : Abdul Razak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki tahap penguatan tata kelola melalui mekanisme evaluasi yang melibatkan sekolah sebagai penerima layanan secara langsung. Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan aplikasi yang memungkinkan kepala sekolah memberikan penilaian terhadap layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mulai dari kualitas menu hingga ketepatan distribusi. Mekanisme tersebut dapat menjadi instrumen koreksi untuk mengidentifikasi persoalan di lapangan sekaligus memperbaiki kualitas pelayanan secara berkelanjutan. Kepala BGN Sudaryono menjelaskan, aplikasi tersebut dirancang agar kepala sekolah dapat memberikan rating dan catatan terhadap dapur yang melayani sekolah masing-masing. Masukan dapat mencakup kondisi menu, keterlambatan pengiriman, serta persoalan lain yang ditemukan selama pelaksanaan MBG. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga bersumber dari pengalaman penerima layanan di tingkat sekolah. Menurut Sudaryono, sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan dan ditargetkan dapat diakses kepala sekolah dalam waktu sekitar satu hingga tiga minggu. Bagi BGN, umpan balik dari sekolah diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat kepuasan terhadap layanan SPPG sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap penyedia makanan. Dalam perspektif tata kelola, mekanisme penilaian semacam ini memiliki fungsi penting karena memperpendek jarak antara pelaksana program dan pengambil keputusan. Keluhan mengenai menu yang kurang bervariasi, kualitas makanan, keterlambatan distribusi, maupun persoalan pelayanan dapat dicatat secara lebih terstruktur. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk menemukan pola persoalan, menentukan tindak lanjut, dan mengevaluasi kinerja SPPG berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Penguatan evaluasi juga berkaitan erat dengan aspek keamanan pangan. BGN telah menegaskan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat penerima makanan, tetapi turut berperan sebagai lapisan pengawasan sebelum makanan dikonsumsi peserta didik. Guru didorong makan bersama siswa sekaligus melakukan pemeriksaan fisik terhadap makanan yang diterima, termasuk kondisi wadah, keberadaan label, dan kejelasan batas waktu konsumsi. …

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.