DAC Produk IT Lokal, Dari Anak Cirebon Siap Bersaing dengan Brand Ternama

DAC, Dari Anak Cirebon adalah produk assembling lokal yang berhasil membangun namanya di industri penyedia barang-barang elektronik Indonesia.

Dalam stannya pada pameran Indonesia Catalogue Expo and Forum (ICEF), DAC menampilkan sejumlah produk-produk PC desktop, Mini PC, Laptop, Videotron, hingga aksesoris-aksesoris periferal lainnya seperti mouse, keyboard, kabel connector dan lain sebagainya.

Produk-produk DAC sudah banyak dipakai oleh pengusaha-pengusaha di daerah, minimarket dan juga lembaga pemerintahan di seluruh Indonesia.

Baca Juga

Founder dari DAC, Da’an mengatakan bahwa DAC sudah terdaftar di Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) semenjak 2016. Akan tetapi, masa-masa awal itu belum dibranding sebagai DAC. Da’an mulai melakukan perancangan nama pada 2018 dan baru memperkenalkan brandnya sebagai DAC pada 2019.

“LKPP itu dari 2016. Dari brand lokal yang lain, kita yang awal memulai,” kata Da’an di stan DAC pada pameran ICEF hari ke-2, JIExpo, Jumat 4 Agustus 2023.

Menimbang bahwa Indonesia belum punya barang produksi lokal sendiri untuk hampir semua komponen komputer. LKPP disini membuat kebijakan bahwa setidaknya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam produk yang ditawarkan mencapai angka 40%.

Di sisi lain, DAC adalah perusahaan yang menggabungkan segala komponen komputer dan menjadikannya satu kesatuan utuh, untuk kemudian bisa difungsikan secara penuh. Mereka adalah perusahaan yang menyediakan barang end-user.

Sehingga untuk memenuhi standar 40% TKDN tersebut, selain mengimpor komponen-komponen komputer yang memang belum bisa di produksi oleh Indonesia. Mereka berperan atas desain model, casing, hingga motherboard.

“Memang beberapa item (casing, motherboard, mouse, keyboard, panel) masih impor, tapi itu kita sudah desain sendiri. Karena untuk nyetak itu kita belum bisa,” ungkap Da’an.

Da’an mulai berinisiatif membuat produk sendiri pada 2015. Dia berpikir ketimbang memasarkan dan menjual barang satu persatu dari brand lain, lebih baik menjual barang sebagai satu produk kesatuan sendiri.

Dia bersama timnya banyak belajar setelah mendapat kesempatan menjadi assembling dari salah satu brand asing. Sebelumnya mereka hanya menjual barang rakitannya (PC Desktop) ke warnet-warnet (warung internet).

“Dulu kita sempat jadi assembling salah satu brand luar, dari situ kita mulai banyak belajar. Tapi kalo mulai jualan komputer itu dari masa-masanya warnet tahun 2000-an,” ujar Da’an.

Selain berjualan komputer, Da’an dulunya juga membangun usaha warnet. Warnet yang dia miliki berada di Cirebon dan juga Bandung.

Sebagai founder Da’an mengaku tidak mudah untuk memasarkan produk baru. Sementara, butuh modal yang besar untuk membuat iklan. Sehingga saat ini, DAC belum memproduksi masal barang di etalasenya, mereka baru akan mulai membuat produk setelah menerima pesanan.

“Barang baru, atau produk baru itu butuh effort khusus untuk pemasarannya. Sedangkan kalau mau buat iklan di tv atau media-media lain saya rasa masih terlalu besar biayanya. Makanya kita sekarang pakai sistem project based, kalau ada yang pesen baru kita bikinin,” ucap Da’an.

Beberapa waktu yang lalu, menurut pengakuan Da’an, laptop DAC pernah menjuarai kontes yang diselenggarakan kementerian. Mereka memenangkan penghargaan produk dengan kualitas terbaik, yang saat itu dibandingkan dengan produk asing yang cukup ternama.

Saat ini Da’an hanya berharap agar bisa merubah stigma yang berkembang di masyarakat, bahwa produk lokal kalah kualitas dengan produk luar. Dia percaya produknya juga bisa menyaingi produk berkualitas dari luar negeri.

 

Related Posts

Add New Playlist