Riak ketegangan yang belakangan memanas di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kerap dinilai publik sebagai krisis kelembagaan yang mengkhawatirkan. Namun, dari sudut sosiologis dan spiritual pesantren, “badai” di Jakarta itu dituding tidak lebih dari sekadar riak semu yang justru mengorbankan hal paling fundamental dalam tubuh jam’iyah: tradisi intelektual.
Untuk membedah apa yang sebenarnya terjadi di balik layar kepengurusan PBNU saat ini, tim kata Indonesia melakukan wawancara khusus dengan KH. Ahmad Badawi Basyir (yang akrab disapa Gus Badawi), Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo, Kudus, Jawa Tengah.
Sebagai putra kandung dari ulama sufi pejuang legendaris, almaghfurullah KH. Ahmad Basyir—sang penjaga istikamah amalan riyadhoh dan wirid Dalailul Khairat di tanah Jawa—Gus Badawi mewarisi ketajaman batin dan keberanian kultural yang khas. Di tengah hiruk-pikuk elite, wejangan beliau dari koridor pesantren Jekulo ini laksana gertakan keras yang menyentak kesadaran warga Nahdliyin.
Berikut adalah petikan wawancara mendalam bersamanya:
“Konflik di PBNU itu Tidak Sungguh-Sungguh!”
Gus, bagaimana Anda melihat dinamika dan saling silang ketegangan di tubuh PBNU belakangan ini? Banyak pihak luar yang khawatir NU sedang di ambang perpecahan.
“Konflik di PBNU itu tidak sungguh-sungguh, saya tahu mereka. Bagi kami yang tumbuh dalam tradisi keilmuan pesantren, persilangan argumen keras di NU itu barang usang. Ada garis batas yang tegas antara ketegangan struktural temporer dan ikatan sanad keilmuan yang abadi. Di dalam ruang rapat mereka bisa terlihat seperti gegeran (ribut), tapi di luar mereka kembali merokok dan gerr-gerran (tertawa bersama).
Masalahnya, ketika para elite ini asyik memamerkan ego mereka di panggung publik, ketegangan semu ini justru membuat organisasi menjadi tidak produktif. Warga Nahdliyin di bawah tidak boleh menjadi korban provokasi atas perseteruan yang sebenarnya tidak memiliki bobot ideologis yang substansial ini.”
Jenengan menyebut PBNU hari ini menjadi ‘tidak produktif’. Apa indikator konkretnya sehingga Anda melontarkan kritik sekeras itu?
“Ini yang sangat memprihatinkan. Akibat kegaduhan yang tidak substansial itu, budaya dan peradaban ilmiah yang menjadi marwah asli Nahdlatul Ulama kini terancam sirna. PBNU hari ini kehilangan produktivitas intelektualnya.
Lihat saja, ruang-ruang diskusi ilmiah yang biasa menghidupkan nalar kritis warga Nahdliyin kini mulai lenyap. Forum-forum bahsul masail—yang merupakan artileri intelektual tertinggi NU dalam menjawab persoalan umat—kini justru mandul dan kehilangan tajinya. Ketika tradisi ilmiahnya lumpuh, NU kehilangan daya tawar moral. Fungsi jam’iyah sebagai kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah menjadi mandek. Jika ini dibiarkan, PBNU benar-benar bergeser menjadi sekadar gerbang pragmatisme politik dan kekuasaan.”
Mengembalikan NU sebagai Rumah Besar Semua Bangsa
Jika PBNU dinilai terjebak dalam pragmatisme, lantas ke mana arah organisasi ini seharusnya melangkah menurut khittah aslinya?
“NU tidak didirikan untuk menjadi alat sandera kepentingan faksi tertentu, apalagi sekadar menjadi kendaraan taktis demi syahwat pragmatis pengurusnya. Khittah NU jauh lebih besar dari sekadar urusan domestik elite PBNU. NU adalah properti bangsa, bukan milik personal pengurusnya!
NU harus terbuka untuk semua bangsa Indonesia. Kemanfaatannya benar-benar dirasakan sebagai umat beragama di bangsa ini. Sebagai wasilah (perantara) pemersatu.
Ini adalah peringatan keras bagi arah kebijakan yang mulai eksklusif. Jika NU gagal menjadi wasilah pemersatu dan justru sibuk memproduksi pembelahan di dalam negeri, maka organisasi ini sedang berjalan memunggungi sejarahnya sendiri. NU harus kembali menjadi payung teduh yang inklusif untuk seluruh elemen bangsa.”
Seruan Rekonsiliasi: Panggil Pulang Mereka yang Terasing
Dengan kondisi PBNU yang Anda sebut ‘lumpuh nalar kritisnya’ dan terjebak konflik semu, apakah masih ada harapan untuk berbenah?
“Tentu saja. Ini belum terlambat untuk bareng-bareng kembali berbenah. Optimisme itu masih sangat besar karena di akar rumput, Nahdliyin yang sepuh maupun yang muda masih banyak yang baik-baik dan berniat tulus untuk berkontribusi membesarkan NU.
Saya menyerukan: ayo kembali berjabat tangan! Jangan sampai kader-kader terbaik kita frustrasi melihat tingkah elite lalu memilih ‘mondok’ di tempat lain. Panggil kembali mereka yang terasing, mereka yang tersisih karena tidak sejalan dengan arus utama kekuasaan struktural saat ini. Panggil mereka untuk kembali ke rumah besar: NU.”
Bagaimana momentum terdekat seperti Muktamar NU dapat memfasilitasi gagasan pembenahan total ini?
“Muktamar NU tidak boleh lagi didesain secara eksklusif atau sekadar menjadi panggung stempel legalitas kelompok tertentu demi transaksi kekuasaan. Berikan ruang-ruang untuk semua elemen NU masuk ke Muktamar NU agar bisa beradu gagasan!
Buka pintu lebar-lebar untuk kiai sepuh, akademisi muda, aktivis kultural, hingga penggerak ekonomi akar rumput. Biarkan Muktamar menjadi pasar malam ide demi kehormatan dan kejayaan peradaban Nusantara yang dicita-citakan NU sejak zaman Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Sudah saatnya menghentikan kegaduhan semu di Jakarta. Sebesar apa pun ego yang dipertontonkan di struktural pusat, jangkar spiritual di daerah—seperti pesantren—akan selalu siap menarik paksa kiblat organisasi ini kembali ke jalur khidmah kemanusiaan dan keutuhan NKRI.”