• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Khazanah»Bikin Takjub! Inilah Cara Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Perkuat Kemandirian Pangan Lewat Tempe

Bikin Takjub! Inilah Cara Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Perkuat Kemandirian Pangan Lewat Tempe

  • Kata Indonesia
  • - Monday, 2 November 2026

Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Banyuwangi yang didirikan tahun 1987 dan resmi diwakafkan sejak tahun 1990 sebagai salah satu kampus cabang dari Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo terus mengembangkan unit usaha pesantren melalui produksi berbagai kebutuhan pangan. Salah satu produk unggulan yang menjadi perhatian adalah tempe, produk khas yang dinilai memiliki keunikan karena belum dimiliki oleh kampus-kampus Gontor lainnya.

Produksi tempe tersebut berawal dari inisiatif salah seorang ustadz yang memiliki pengalaman membantu usaha pembuatan tempe milik keluarganya. Ia kemudian mengusulkan agar pesantren mengembangkan produksi tempe secara mandiri. Usulan tersebut mendapat persetujuan dan mulai direalisasikan sekitar lima tahun lalu.

Keberadaan unit produksi tempe memberikan kontribusi terhadap kebutuhan konsumsi santri dan kegiatan dapur pesantren. Produksi dilakukan dengan menyesuaikan jadwal menu harian, sehingga tidak selalu berlangsung setiap hari. Dengan adanya produksi sendiri, dapur pesantren tidak perlu lagi mendatangkan tempe dari luar untuk memenuhi kebutuhan internal.

“Alhamdulillah, tempe ini bisa membantu. Bahkan, ketika kami datang di sini, salah satu omzet terbesar dari unit-unit usaha yang ada berasal dari pabrik tempe,” ungkap Ustadz Nurwahyudin, M.Pd selaku Bapak Wakil Pengasuh Pondok Darussalam Gontor Kampus 4.

Selain tempe, Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien juga mengembangkan unit usaha lain, seperti Bakery dan Kafe Muttaqien. Produk bakery yang sebelumnya dikenal sebagai Darul Muttaqien Bakery kini diarahkan untuk menggunakan identitas produk Khizanah Gontor, menyesuaikan dengan kebijakan dan identitas produk usaha di lingkungan semua kampus Gontor.

Pengembangan usaha tersebut tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan internal pesantren, tetapi juga ke depannya membuka peluang pemasaran kepada masyarakat luas. Saat ini, produk tempe dan bakery masih diprioritaskan untuk konsumsi lingkungan pesantren. Namun, pihak pengelola memiliki rencana untuk memperluas pemasaran, terutama di kawasan sekitar pondok.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, pengelola juga memperhatikan proses kaderisasi. Regenerasi sumber daya manusia dan stabilisasi sistem pengelolaan menjadi hal penting agar unit usaha dapat terus berjalan dan berkembang. Para ustadz yang terlibat dalam pengelolaan saat ini mulai dipersiapkan agar mampu melanjutkan dan mengembangkan usaha pada masa mendatang.

Tidak berhenti pada produk yang sudah ada, pesantren juga merencanakan pengembangan produk susu. Rencana ini akan melibatkan alumni Gontor yang memiliki usaha peternakan sapi perah di daerah Genteng. Produk susu tersebut berpotensi dikembangkan dalam berbagai varian rasa dan kemasan. Dalam skema yang direncanakan, proses produksi akan melibatkan mitra alumni terutama yang berdomisili di kawasan Kabupaten Banyuwangi.

Melalui pengembangan berbagai unit usaha tersebut, Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien berupaya memperkuat kemandirian pangan sekaligus membangun kemandirian ekonomi pesantren. Keberadaan produk tempe menjadi salah satu bukti bahwa pengelolaan potensi internal dapat menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kebutuhan pesantren dan memiliki peluang untuk dikembangkan ke pasar yang lebih luas.

 

Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global

November 2, 2026

Bikin Takjub! Inilah Cara Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Perkuat Kemandirian Pangan Lewat Tempe

November 2, 2026

Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti…

Bikin Takjub! Inilah Cara Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Perkuat Kemandirian Pangan Lewat Tempe

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Banyuwangi yang didirikan tahun 1987 dan resmi…

Pengawasan MBG dari Daerah Memperkuat Perlindungan Kesehatan Anak

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pengawasan MBG dari Daerah Memperkuat Perlindungan Kesehatan Anak Oleh : Gavin Asadit Pengawasan dari tingkat daerah menjadi bagian penting untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan aman dan memberikan manfaat bagi kesehatan anak. Seiring meluasnya pelaksanaan program di berbagai wilayah, kualitas bahan pangan, kebersihan dapur, proses pengolahan, hingga ketepatan distribusi harus dijaga secara konsisten. Pengawasan yang melibatkan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, sekolah, dan Badan Gizi Nasional (BGN) diperlukan agar makanan yang diterima peserta didik memenuhi standar keamanan dan gizi. BGN telah mendorong penguatan koordinasi pengawasan MBG melalui optimalisasi peran Satuan Tugas (Satgas) MBG di daerah serta rencana penempatan personel BGN pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Langkah ini ditujukan untuk memperpendek rentang koordinasi antara pemerintah pusat dan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyiapkan makanan bagi penerima manfaat di seluruh Indonesia. Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menjelaskan bahwa besarnya cakupan program membutuhkan pembagian peran yang jelas agar pengawasan dapat berlangsung lebih dekat dengan pelaksanaan di lapangan. Menurutnya, personel BGN di daerah diharapkan dapat menjadi mitra koordinasi kepala daerah, mempercepat penanganan keluhan, dan membantu memastikan persoalan operasional segera ditindaklanjuti. BGN juga mendorong daerah yang belum membentuk Satgas MBG agar segera menyelesaikan pembentukannya. Hingga akhir Oktober, Satgas MBG telah terbentuk di 230 daerah. Penguatan tersebut diperjelas melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 400.5/8545/SJ tentang Pelaksanaan Inspeksi dan Penilaian Kesesuaian SPPG di Daerah. Kebijakan ini mendorong gubernur, bupati, dan wali kota untuk terlibat dalam pemeriksaan berkala terhadap dapur MBG. Pemeriksaan dilakukan dengan mengacu pada indikator kelayakan yang telah disiapkan BGN, sehingga penilaian tidak hanya mengandalkan laporan administratif, tetapi juga kondisi nyata fasilitas dan proses pengolahan makanan. Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan dan pengawasan MBG. Menurutnya, kepala daerah dapat menggerakkan perangkat daerah terkait untuk memeriksa kelayakan SPPG dan menindaklanjuti temuan di wilayah masing-masing. Keterlibatan dinas kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, ketahanan pangan, serta unsur pengawasan daerah memungkinkan pemeriksaan dilakukan dari berbagai sisi, mulai dari sanitasi hingga kualitas layanan. …

Pemerintah Perketat Pengawasan MBG Hingga Tingkat Daerah

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pemerintah Perketat Pengawasan MBG Hingga Tingkat Daerah Jakarta – Pemerintah memperketat pengawasan Program Makan Bergizi…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.