Bertemu Astronot, Guru SD Ini Belajar Misi Selamatkan Bumi di Amerika Serikat

52

JAKARTA, KataIndonesia.com – Nur Fitriana (32), guru Sekolah Dasar (SD) Deresan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta, tak pernah menyangka bahwa dirinya bisa mengunjungi US Space and Rocket Center (USSRC) berada di Huntsville, Alabama, Amerika Serikat.

Tak hanya itu, di USSRC, guru SD ini juga bertemu dan berkesempatan mendengarkan langsung pengalaman dari para astronot NASA yang pernah menjalankan misi ke luar angkasa.

Fitriana mengetahui adanya program Honeywell Educators at Space Academy (HESA) pada tahun 2015 lalu.

Advertisement

Guru kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, ini mendapat informasi tentang program garapan Honeywell Hometown Solutions yang merupakan badan tanggung jawab sosial perusahaan industri perangkat lunak ini dari seorang temannya.

“Waktu itu saya tidak berani mendaftar langsung karena kalau dilihat di webnya itu tentang pelatihan astronaut, pergi ke bulan. Harus mempelajari apakah relevan dengan dunia pendidikan karena saya ini guru SD,” ujar Nur saat ditemui di SD Deresan, Senin (2/7/2018).

Sekitar satu setengah tahun mempelajarinya, dia akhirnya memutuskan mendaftar secara online pada September 2017.

“Saya pelajari sampai baca jurnal-jurnal international. Astronot ini hanya bagian dari pembelajaran STEM yang merupakan penyatuan pelajaran antara science, technology, engineering, dan mathematic,” ungkapnya.

Kebiasaan baik

Nur lalu mengatakan, dari apa yang dipelajari ternyata astronot menjalankan misi ke antariksa bukan untuk gaya-gayaan, tetapi untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan akibat berbagai faktor.

“Mereka (astronot) bisa melihat bagian bumi mana yang mengering, kutub es yang mencair, lalu apa yang harus dilakukan penduduk bumi dan kalau di luar negeri ini disebut dengan kebiasaan baik,” tuturnya.

Kebiasaan baik ini, lanjut Nur, harus ditanamkan sejak dini, seperti mengurangi sampah plastik dan mengurangi polusi udara. Pola kebiasaan baik ini relevan untuk pendidikan karakter anak-anak, termasuk siswa sekolah dasar.

“Di Indonesia, itu relevan untuk pendidikan karakter anak-anak di Indonesia. Jadi sejak SD, anak-anak dibiasakan dengan kebiasaan baik untuk menjaga bumi dan isinya,” ungkap Nur.

Saat mendaftar, guru kelahiran 9 Juni 1986 melampirkan artikel penelitiannya, yakni sumber daya listrik alternatif dari baterai yang isi karbonnya diganti dengan kulit sayur dan buah. Selain itu, dia juga mengirimkan penelitiannya tentang membuat jembatan dari koran bekas yang kuat menahan beban batu bata.

Nur harus bersaing dengan 2.776 pendaftar dari 67 negara. Dia sempat berpikiran jika dirinya tidak lolos program Honeywell Educators at Space Academy (HESA). Sebab, sampai dengan batas pengumuman dirinya tidak mendapat konfirmasi lewat email.

“Pengumuman itu harusnya 28 Desember 2017, ternyata molor sekitar 2 hari. Tidak menyangka ternyata lolos. Saya sampai baca dua kali email-nya, kucek-kucek mata, baca lagi untuk memastikan, dan benar lolos,” katanya.

Total, ada 118 orang yang lolos dari seluruh dunia. Dari Indonesia, sebanyak 10 orang termasuk Nur.

“Saya di sana selama 5 hari, dari 21 hingga 25 Juni 2018. Pengalaman luar biasa berada di sana dan bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara,” ucapnya.

Hal yang tidak pernah terbayangkan dan terlupakan bagi Nur adalah bisa bertatap muka dengan para astronot yang pernah menjalankan berbagai misi luar angkasa.

“Hari pertama kami sudah langsung bertemu dengan para astronot beneran,” ungkapnya.

Menurut Nur, para astronot ini memberikan buku lengkap dengan tanda tangan mereka. Selain itu, dalam setiap sesi, para astronot berbagai pengalamanya saat menjalankan misi.

“Jadi setiap hari, kami bertemu dengan astronot satu atau dua orang dari tahun ke tahun, misalnya astronaut yang pernah menjalankan misi Apollo tahun ini. Kami tanya jawab langsung, seperti tidak ada jarak,” tuturnya.

Saat sesi dengan astronot, banyak para peserta yang melontarkan berbagai pertanyaan. Salah satunya adalah tentang cara menjadi astronot.

Kebanyakan orang, lanjut Nur, beranggapan menjadi astronot haruslah ahli dalam matematika, fisika, dan kimia juga menang olimpiade international. Ternyata tidak.

“Satu yang mereka garis bawahi untuk menjadi astronot, yakni harus berani mati dan berani berjuang, berkorban untuk kepentingan bersama. Astronot itu kan belum tentu bisa kembali dan bisa gagal dalam peluncuran juga,” tutur Nur.

Selain itu, Nur dan peserta lain juga bertemu dengan para profesor serta ahli sains, teknologi, teknik dan matematika. Dia juga berkesempatan melihat langsung pekerjaan mereka.

“Kami semua sampai merinding, ternyata perjuangan mereka untuk bumi itu sedemikian rupa. Mereka itu misinya untuk menyelamatkan bumi ini, untuk kita, dengan penelitian-penelitian,” pungkasnya.

 

 

 

LAPORAN: FAJRIN HAKIM

Info Lomba Terbaru