Seni Budaya

Asal Mula Adat Pariaman, Perempuan Membeli Laki-laki

Di Pariaman dikenal dengan uang japutan (uang jemput), agiah jalang (uang atau emas yang diberikan oleh pihak laki-laki saat pasca pernikahan) dan uang hilang (uang hilang). Pengertian uang jemputan adalah Nilai tertentu yang akan dikembalikan kemudian kepada keluarga pengantin wanita pada saat setelah dilakukan acara pernikahan.

Pihak Pengantin Pria akan mengembalikan dalam bentuk pemberian berupa emas yang nilainya setara dengan nilai yang diberikan oleh keluarga Pihak Pengantin Wanita sebelumnya kepada keluarga Pengantin Pria. Biasanya pemberian ini dilakukan oleh keluarga pengantin pria (marapulai) ketika pengantin wanita (Anak Daro) berkunjung atau Batandang ka rumah Mintuo.

Baca juga: Anies Bawesdan Kagumi Keramahan dan Keindahan Alam Minangkabau

Bahkan pemberian itu melebih nilai yang diterima oleh pihak Marapulai sebelumnya karena ini menyangkut menyangkut gensi keluarga marapulai itu sendiri. Secara teori tradisi bajapuik ini mengandung makna saling menghargai antara pihak perempuan dengan pihak laki-laki. Ketika laki-laki dihargai dalam bentuk uang japuik, maka sebaliknya pihak perempuan dihargai dengan uang atau emas yang dilebihkan nilainya dari uang japuik atau dinamakan dengan agiah jalang.

Kabarnya, dahulu kala, pihak laki-laki akan merasa malu kepada pihak perempuan jika nilai agiah jalangnya lebih rendah dari pada nilai uang japuik yang telah mereka terima, tapi sekarang yang terjadi malah sebaliknya. Bahkan dalam perkembangnya muncul pula istilah yang disebut dengan uang hilang. Uang hilang ini merupakan pemberian dalam bentuk uang atau barang oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki, yang sepenuhnya milik laki-laki yang tidak dapat dikembalikan.

Bajapuik itu untuk menghargai keluarga pihak laki-laki yang telah melahirkan dan membesarkannya, sehingga ketika anak atau keponakan mereka menikah dan meninggalkan rumah, mereka tidak merasa kehilangan.

Pasalnya, biasanya seorang anak laki-laki adalah tumpuan harapan dari keluarganya, sementara ketika mereka menikah menjadi tumpuan harapan keluarga perempuan.

Di situlah alasannya, kenapa laki-laki “dibeli” di Pariaman untuk menjalankan dan melanggengkan tradisi pernikahan di ranah Minang itu.
#infominang #BabagiInformasi
SC kabarantau

 

Sumber: Facebook Info Minang

Share
Published by
Kata Indonesia

Terpopuler

Pemutihan Iuran BPJS Kesehatan Jadi Solusi Tingkatkan Kepesertaan Aktif

Pemutihan Iuran BPJS Kesehatan Jadi Solusi Tingkatkan Kepesertaan Aktif Oleh: Gani Putra Kebijakan pemutihan iuran…

14 hours ago

Pemerintah Siapkan Rp20 Triliun untuk Hapus Tunggakan BPJS Peserta Rentan

Pemerintah Siapkan Rp20 Triliun untuk Hapus Tunggakan BPJS Peserta Rentan Pemerintah mempercepat program penghapusan tunggakan…

15 hours ago

Mengawal Upaya Menjaga Stabilitas Harga Bahan Pokok Selama Ramadan

Mengawal Upaya Menjaga Stabilitas Harga Bahan Pokok Selama Ramadan Oleh: Nadira Citra Maheswari Bulan Ramadan…

15 hours ago

Pemerintah Pastikan Stabilitas Harga Bahan Pokok Selama Ramadan

Pemerintah Pastikan Stabilitas Harga Bahan Pokok Selama Ramadan JAKARTA — Pemerintah memastikan stabilitas harga bahan…

17 hours ago

BoP Summit, Indonesia Bawa Misi Perdamaian dan Advokasi Palestina di Washington

BoP Summit, Indonesia Bawa Misi Perdamaian dan Advokasi Palestina di Washington Oleh: Raka Dirgantara Presiden…

20 hours ago

Partisipasi Indonesia di BoP Tegaskan Komitmen Diplomasi Perdamaian Global

*Partisipasi Indonesia di BoP Tegaskan Komitmen Diplomasi Perdamaian Global JAKARTA — Pemerintah menegaskan komitmen diplomasi…

20 hours ago