Memasuki puncak peringatan satu abad berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), perhelatan pendidikan tingkat tinggi Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 siap digelar. Forum internasional ini diproyeksikan menjadi ajang strategis bagi para tokoh pendidikan lintas negara untuk merumuskan ulang sistem pendidikan holistik dalam menjawab tantangan masa depan.
Ketua Panitia GIHES 2026, Dr. KH. Anang Rikza, menyampaikan bahwa penyelenggaraan forum ini merupakan salah satu agenda pamungkas yang sangat krusial dalam deretan peringatan seabad Gontor.
“GIHES dilaksanakan dalam rangka momentum 100 Tahun PMDG yang akan diperingati puncaknya pada tanggal 19 September mendatang. Ini adalah rangkaian terakhir dari banyak rangkaian 100 Tahun Gontor,” ungkap Dr. KH. Anang Rikza di Jakarta.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa GIHES mengemban misi besar untuk menjadikan pendidikan madrasah dan pesantren (Islamic Education) sebagai solusi komprehensif bagi dunia. Sistem pendidikan yang utuh atau holistik dinilai mutlak diperlukan untuk membina karakter unggul.
“Fokus utama kita adalah mendiskusikan pendidikan Islam dengan sistem holistik dalam menghadapi tantangan masa depan, serta menyiapkan generasi ke depan agar menjadi generasi Khairul Ummah (generasi terbaik),” jelasnya.
Perkuat Jejaring Lintas Negara dan Hasilkan Naskah Akademik
Tidak sekadar menjadi forum diskusi satu arah, GIHES 2026 dirancang untuk memperkuat ekosistem kolaborasi antar-lembaga pendidikan di tingkat dunia. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme dan partisipasi delegasi dari berbagai benua.
“GIHES menjadi forum untuk membangun jejaring antar lembaga pendidikan di Indonesia dan luar negeri. Selain dari Indonesia, hadir pula delegasi dari Malaysia, Thailand, Nigeria, Irak, Iran, Amerika Serikat, dan Mesir,” tambah Dr. KH. Anang Rikza.
Kualitas forum ini juga diperkuat dengan kehadiran pakar pendidikan dari negara-negara yang memiliki sistem pendidikan terkemuka. Beliau menyebutkan bahwa pembicara yang hadir tidak hanya tokoh dari Indonesia, tetapi juga pakar dari Jepang, India, Turki, Malaysia, dan Finlandia.
Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, perhelatan GIHES 2026 akan memproduksi luaran (output) yang terukur dan berkontribusi langsung pada literasi akademik global.
“Luaran dari GIHES nanti adalah berbentuk naskah akademik. Semua makalah yang terhimpun di diskusi GIHES akan diterbitkan ke jurnal internasional dan akan diterbitkan menjadi buku internasional,” tutupnya.
Kehadiran GIHES 2026 diharapkan mampu mengukuhkan posisi institusi pendidikan Islam di Indonesia sebagai kiblat pendidikan karakter dunia, sekaligus mewariskan cetak biru pendidikan masa depan yang berlandaskan adab dan keilmuan tinggi.