Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelar agenda penting “Temu Nasional Pondok Pesantren” di Jakarta. Pertemuan yang dihadiri oleh ratusan kiai, nyai, dan pengasuh pondok pesantren dari seluruh Indonesia ini secara khusus mendeklarasikan Gerakan Pesantren Anti-Kekerasan Seksual, sebagai langkah konkret menjaga marwah institusi pendidikan Islam terbesar di tanah air.
Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin), dalam pidato pengarahannya menegaskan bahwa situasi terkait kekerasan di lembaga pendidikan, termasuk pesantren, sudah memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan.
“Kejadian yang di Pati itu adalah Dukun ngaku Kyai,” ujar Gus Muhaimin tegas di hadapan para peserta Temu Nasional.
Gus Muhaimin juga menyoroti bagaimana rentetan peristiwa kekerasan seksual yang terjadi belakangan ini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu di media sosial untuk menyudutkan institusi pesantren secara keseluruhan. Ada upaya sistematis yang ingin mendegradasi kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan berbasis agama ini.
“Jangan sampai peristiwa atau ulah segelintir oknum ini merusak nama baik ribuan pesantren yang selama ini telah berjasa membangun karakter bangsa. Banyak sekali narasi di media sosial yang sengaja digoreng oleh pihak yang ingin menghancurkan marwah dan kehormatan pesantren. Ini yang harus kita lawan,” tambahnya.
Pesantren Harus Tetap Menjadi Benteng Moral
Dalam pandangan PKB, pondok pesantren sejak zaman prakemerdekaan adalah benteng moral, akhlak, dan ilmu pengetahuan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, PKB berkomitmen penuh agar fungsi benteng ini tidak rapuh akibat pembiaran terhadap kasus-kasus kekerasan.
Gus Muhaimin menegaskan bahwa PKB dan komunitas pesantren tidak akan tinggal diam melihat fenomena ini bergulir.
“Kita tidak boleh diam! Kita bergerak bersama-sama, bahu-membahu untuk mengatasi masalah ini dari hulu ke hilir. Gerakan Pesantren Anti-Kekerasan Seksual ini adalah bukti nyata bahwa pesantren siap berbenah, melakukan mitigasi, pencegahan, dan penegakan disiplin yang ketat agar lingkungan pesantren menjadi ruang yang paling aman dan nyaman bagi santri,” pungkasnya.
Melalui Temu Nasional ini, PKB bersama para pengasuh pondok pesantren merumuskan sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari penyusunan kode etik pengasuhan, pembentukan tim satgas pencegahan kekerasan di tiap pesantren, hingga penguatan literasi digital bagi santri untuk menangkal sentimen negatif di media sosial.