• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Satukan Jiwa Kepemimpinan, Retreat Kepala Daerah Dukung Asta Cita

Satukan Jiwa Kepemimpinan, Retreat Kepala Daerah Dukung Asta Cita

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 26 February 2025

JAKARTA – Retreat Kepala Daerah di Akademi Militer (Akmil) Magelang menjadi langkah konkret dalam memperkuat kepemimpinan serta mendorong sinergi antarwilayah.

 

Hal tersebut guna mendukung terwujudnya Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

 

Program tersebut bertujuan memastikan kepala daerah memiliki pemahaman yang komprehensif tentang kepemimpinan nasional, koordinasi lintas sektor, serta pelayanan publik yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

 

Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa pemerintah membuka kesempatan bagi seluruh kepala daerah, untuk bergabung dalam program tersebut meskipun telah berjalan sejak Jumat (21/2).

 

“Saya tahu dalam beberapa waktu ini akan ada lagi yang akan bergabung. Saya enggak akan sebutkan jumlahnya yang bergabung. Silakan, kita welcome,” ujarnya di Magelang, Minggu (23/2).

 

Namun, Tito menekankan adanya perbedaan sertifikat antara peserta yang mengikuti sejak awal dan yang bergabung di tengah program.

 

“Yang 90 persen sertifikatnya lulus. Yang datang di tengah-tengah, kita berikan sertifikat, telah mengikuti. Telah mengikuti saja, enggak ada kata-kata lulus,” imbuhnya.

 

Retreat tersebut juga menjadi momentum bagi kepala daerah untuk memahami bahwa legitimasi kepemimpinan diperoleh dari rakyat, bukan dari partai politik.

 

“Saya sudah sampaikan tadi siang, bahwa partai itu hanya kendaraan saja. Partai memberikan blessing untuk maju. Tapi ketika mereka terpilih sebagai kepala daerah, itu bukan karena dipilih oleh partainya, melainkan dipilih oleh rakyatnya,” tegas Tito.

 

Juru Bicara Kantor Komunikasi Presiden, Ujang Komaruddin, menyatakan bahwa retreat ini tidak hanya memperkuat kepemimpinan, tetapi juga membangun sinergi untuk implementasi kebijakan yang lebih efektif.

 

“Ini adalah kesempatan bagi kepala daerah untuk membangun sinergi dan langsung melakukan aksi nyata,” katanya,

 

Ujang menjelaskan bahwa peserta mendapatkan pembekalan tentang nasionalisme, patriotisme, serta strategi kepemimpinan daerah yang lebih efisien dan pro-rakyat.

 

Gubernur Lemhannas, Ace Hasan Syadzily, menekankan bahwa kepala daerah perlu mengimplementasikan nilai-nilai kebangsaan dalam kepemimpinan mereka.

 

“Lemhannas sebagai kawah candradimuka bagi para pemimpin nasional yang berkarakter kebangsaan (learning and humble society),” katanya.

 

“Dengan memberikan penguatan kemampuan para peserta untuk menjadi pemimpin global namun tetap berbasis pada karakter nasional,” ujar Ace,

 

Kepala daerah juga mengikuti diskusi panel mengenai geopolitik, ketahanan nasional, serta strategi pembangunan berkelanjutan.

 

Retreat Kepala Daerah di Magelang menjadi pijakan awal bagi kepala daerah untuk membangun kolaborasi lebih erat, memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, serta memastikan kebijakan daerah selaras dengan program nasional.

 

Dengan sinergi yang semakin erat, pembangunan di daerah dapat berjalan lebih efektif demi kesejahteraan rakyat dan kemajuan Indonesia. (*)

Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung

September 30, 2026

Mengawal Kesiapsiagaan Bencana Sebelum Hujan Ekstrem Datang

September 30, 2026

Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung Jakarta -…

Mengawal Kesiapsiagaan Bencana Sebelum Hujan Ekstrem Datang

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Mengawal Kesiapsiagaan Bencana Sebelum Hujan Ekstrem Datang   Oleh: Rizky Adinata Kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi perlu diperkuat sebelum hujan ekstrem datang, menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim hujan 2026/2027 memiliki pola yang perlu diwaspadai. Meski awal musim hujan diperkirakan berlangsung lebih lambat di sejumlah wilayah, jarak menuju puncak musim hujan relatif berdekatan sehingga potensi lonjakan curah hujan dapat meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, angin kencang, dan gangguan pelayanan publik. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana tidak seharusnya baru dilakukan ketika hujan deras mulai menimbulkan dampak, tetapi harus dipersiapkan sejak jauh hari melalui koordinasi pemerintah dan partisipasi masyarakat. BMKG memprakirakan sebanyak 185 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 24,66 persen luas daratan Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Selanjutnya, sebanyak 266 ZOM atau 17,3 persen wilayah daratan diperkirakan menyusul pada Desember 2026. Di sisi lain, sebanyak 529 ZOM atau 61,08 persen wilayah mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologinya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah perlu memahami karakteristik cuaca di wilayah masing-masing agar kebijakan kesiapsiagaan dapat disusun secara tepat dan tidak bersifat seragam. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah jarak antara awal musim hujan dengan puncak musim yang diperkirakan cukup dekat. Puncak musim hujan diproyeksikan terjadi pada Desember 2026 di 155 ZOM, Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. Menurut Ardhasena Sopaheluwakan, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena curah hujan tinggi dalam periode yang berdekatan dapat memicu bencana hidrometeorologi apabila kapasitas lingkungan dan infrastruktur tidak memadai. Meskipun durasi musim hujan pada sebagian wilayah diperkirakan lebih pendek, akumulasi curah hujan tidak berarti berada pada kondisi rendah. BMKG mencatat 510 ZOM atau sekitar 69,7 persen daratan berada dalam kategori curah hujan normal, sedangkan 147 ZOM atau 18,5 persen daratan diperkirakan berada di atas normal. Data tersebut memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan tetap diperlukan karena besarnya curah hujan dan kondisi wilayah menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat risiko bencana. Karena itu, rekomendasi BMKG perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata lintas sektor. Di bidang pangan, pemerintah dapat menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas berumur pendek. Pada sektor air dan energi, kapasitas drainase, waduk, serta tampungan air perlu dioptimalkan. Sementara itu, sektor kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan…

Kesiapsiagaan Bencana, Upaya Pemerintah Melindungi Warga

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Kesiapsiagaan Bencana, Upaya Pemerintah Melindungi Warga Oleh: Hendra Gunawan Kesiapsiagaan bencana semakin penting ditempatkan sebagai…

Pemerintah Ingatkan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi saat Musim Hujan

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Pemerintah Ingatkan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi saat Musim Hujan Jakarta – Pemerintah mengingatkan masyarakat dan seluruh…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.