Oleh: Medina Usisanti (Netizen di Surakarta)
Konflik yang terjadi menjelang pemilihan presiden yang akan dilaksanakan kurang dari satu bulan ini marak terjadi. Saling sikut dan saling senggol menjadi makanan sehari-hari bagi pejabat-pejabat yang ikut andil memeriahkan pilpres tahun 2024 ini.
Semakin dekat dengan pemilu maka semakin panas situasi politik di Indonesia, moral dan etika tak lagi penting di sini. Karena memenangkan pemilihan umum ini harga mati dan beberapa oknum tak bertanggung jawab rela melakukan hal-hal diluar nalar yang tak wajar dilakukan di negeri ini.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Prof. Mahfud MD pun setuju dengan pernyataan di atas. Semakin dekat dengan jadwal pemilihan umum, banyak sekali hal-hal tak benar yang beliau rasakan selama menjabat sebagai Menkopolhukam sekaligus calon wakil presiden. Beliau secara terang terangan menyatakan bahwa negara sudah tidak netral dalam ajang pemilu ini, banyak sekali hal-hal janggal di luar kekuasaan beliau yang terjadi. Hal ini tidak hanya membuat Menkopolhukam tersebut terheran-heran, namun seluruh rakyat Indonesia dibuat heran atas tindakan yang dilakukan pemerintah ini.
Mahfud MD sebenarnya telah memprediksi hal ini terjadi karena memang setiap menjelang pilpres, banyak hal-hal yang janggal terjadi. Menurutnya pemerintahan tak lagi bekerja untuk rakyat dan malah terdapat keberpihakan. Mahfud MD yang merupakan seseorang yang bekerja untuk negara merasa bahwa masa kerja nya harus diselesaikan segera karena Ia tak ingin bekerja bukan untuk rakyat melainkan memenuhi kepentingan seseorang. Maka dari itu, pada acara “Tabrak Prof!”, beliau menyampaikan akan segera melepas jabatannya sebagai Menkopolhukam. Tak hanya sebab itu, beliau juga tak ingin masyarakat melihat dirinya sebagai cawapres yang merangkap jabatan walaupun sudah tertera bahwa siapapun yang mencalonkan diri sebagai calon presiden ataupun calon wakil presiden tak harus mencopot jabatan yang sekarang diemban, baik itu Menteri hingga walikota.
Mahfud tak semena-mena melepaskan tanggung jawab ini, selama beliau bertarung untuk pemilu, beliau menjelaskan bahwa tugas-tugasnya sebagai Menkopolhukam tidak sama sekali diabaikan, malah segala pekerjaan yang ada di meja beliau dapat diselesaikan dengan baik dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Beliau juga memberikan rasa terima kasih yang besar kepada Jokowi karena telah mengamanahkan beliau sebagai Menkopolhukam. Beliau juga menjelaskan bahwa rasa hormat beliau kepada Jokowi dan juga jajaran pemerintahan tidak berkurang sedikitpun. Beliau bersaksi bahwa selama menjabat sebagai wakil rakyat, hakim konstitusi, dan Menteri di bawah perintah Jokowi, beliau banyak belajar dari Jokowi. Mahfud juga menjamin setelah lepas tanggung jawab ini, beliau akan memastikan bahwa masa transisi berjalan lancar dengan memilih pengganti yang kompeten dan sesuai dengan cara kerja beliau selama ini.
Tindakan yang bisa dibilang frontal ini adalah sebuah gambaran dan Pelajaran bagi pejabat-pejabat yang lainnya untuk tidak menggunakan fasilitas yang disediakan negara untuk kepentingan kampanye ataupun kepentingan partai. Mahfud sekali lagi menegaskan bahwa pejabat negara bekerja untuk negara dan untuk rakyat, bukan bekerja di bawah naungan partai semata. Selama berkampanye, Mahfud lewat tindakan-tindakannya juga berusaha mengajarkan hal ini kepada pejabat yang lainnya. Contohnya pada saat beliau berkunjung ke kampung atau desa dalam rangka berkampanye, beliau tak ingin dijemput ataupun dikawal oleh polisi dan sejenisnya. Beliau sangat ketat dalam membedakan mana saatnya beliau bekerja untuk rakyat dan mana saatnya beliau berkampanye.
Ganjar juga mendukung Keputusan Prof. Mahfud ini dengan menjelaskan tentang kekhawatirannya akan adanya conflict of interest yang sangat fatal. Demi mencegah konflik tersebut terjadi, Ganjar mendukung penuh Keputusan Mahfud untuk mundur dari jabatannya sebagai Menkopolhukam. Ganjar siap untuk menjadi tempat ‘pulang’ Mahfud setelah berkecimpung di dalam pemerintahan. Ganjar sangat mengerti apa yang dibicarakan oleh Mahfud secara beliau juga sudah lama lepas jabatan sebagai Gubernur Jawa Tengah.
Ganjar dan Mahfud juga sempat menyampaikan bahwa pejabat-pejabat yang lainnya sebaiknya mundur dari jabatannya jika ikut dalam hiruk pikuk pemilihan umum, walaupun sudah ada pemberitahuan bahwa pejabat tak perlu mundur. Ganjar bahkan menyebutkan nama Mahfud ketika mengambil contoh-contoh pejabat yang sebaiknya lepas jabatan.