Serangan Pertama di 2019

0

Oleh: Denny Siregar

“Analisamu benar. Tapi ada yang kurang..”

Begitu masuk pesan di handphoneku. Dia seorang “teman” yang banyak memberikan pandangan-pandangan terhadap situasi politik sekarang. Kami sering tukar menukar informasi tentang apa yang terjadi.

Advertisement

“Benar, bahwa hoax kontainer kotak suara itu adalah bagian dari isu untuk mengalihkan perhatian publik supaya melupakan prestasi-prestasi Jokowi. Tapi itu hanya satu faktor kecil saja, ada faktor yang lebih besar yang sedang dibangun sekarang..”

“Apa itu ??” Tanyaku. Kusiapkan kopi sebagai teman, panas mengepul seperti rasa penasaran yang berkumpul.

“Mereka sudah menghitung bahwa mereka akan kalah. Dari sisi manapun mereka tidak akan menang. Karena itu harus dibuat satu cara ekstrim, tapi efektif. Yaitu kerusuhan…”

Ah, kuseruput kopiku. Bagian ini makin menarik.

“Langkah pertama, bangun persepsi bahwa pemilu ini curang. Karena itulah keluar hoax pertama tentang 7 kontainer kotak suara itu. Biarpun orang bilang itu hoax, tapi ada sebagian orang yang percaya bahwa KPU memang bermain untuk memenangkan salah satu calon. Nanti akan keluar beruntun hoax hoax lainnya.

Berdasarkan hoax itu, mereka akan membangun gerakan besar untuk menaikkan isu. Gelombang demi gelombang aksi akan berjalan. Tujuannya supaya orang terus membicarakan isu mereka dan membangun kepercayaan lebih dalam.

Nah, dalam aksi besar itu, akan dibuat sebuah kerusuhan. Kerusuhan yang apinya akan diperbesar ke daerah-daerah sebagai bentuk “perlawanan” terhadap Pemilu yang menurut mereka curang.

Tujuannya adalah menjatuhkan nama pemerintah sekarang. Dengan kerusuhan, maka kepercayaan luar negeri akan runtuh, rupiah melemah dan ekonomi anjlok. Dari sana mereka akan hembuskan isu kemiskinan dan kesenjangan sosial juga PKI, aseng dan semacam itu. Pemerintah akan disalahkan dan mereka akan keluar sebagai pahlawan.

Ingat, isu-isu itu tidak berdiri sendiri, karena itu merupakan satu rangkaian dengan isu-isu lain. Polanya memang begitu. Sejak Pilgub DKI kami sudah mengamati itu…”

Aku terdiam sejenak, sampai akhirnya satu pesan terakhir darinya muncul kembali. “Januari ke depan ini permainan akan lebih keras. Mereka harus menang, bagaimanapun caranya..”

Jadi teringat perkataan seorang teman dulu.

“Ingat. Bagi sebagian kelompok, Pilpres ini adalah pertarungan terakhir mereka. Karena itu mereka akan bertarung habis-habisan. Banyak yang tidak senang pada Jokowi, mulai dari mafia migas sampai HTI. Dan mereka punya musuh bersama untuk diperangi..”

Kubuat satu cangkir kopi lagi. Semoga Tuhan melindungi negeri ini..

 

 

Advertisement