Oleh : Qumairi Mulia Amien, Mahasiswi dari STIKOM London School of Public Relations, Jurusan Public Relations, Semester 3.

 

KATAINDONESIA.COM – Kalau membicarakan tentang pelanggaran lalu lintas, pasti yang terlintas di benak kita adalah mobil, motor atau juga kendaraan umum yang menerobos lampu merah. Tapi jangan salah, tidak hanya kendaraan bermotor saja yang membuat pelanggaran. Pelanggaran lalu lintas juga dilakukan oleh pejalan kaki yang tidak berjalan pada tempatnya. Kenapa? Karena saat pejalan kaki berjalan tidak pada tempatnya dan menyebrang dengan sesukanya otomatis kendaraan bermotor harus menghentikan kendaraannya secara tiba-tiba dan itu akan menyebabkan kecelakaan. Tidak sedikit kecelakaan yang disebabkan oleh tidak tertibnya masyarakat terhadap lalu lintas, bahkan sampai membahayakan nyawa masing-masing. Tapi, itupun tidak sepenuhnya salah pejalan kaki yang berjalan tidak pada tempatnya. Disamping itu fasilitas untuk berjalan kaki di kota Jakarta ini masih sangat minim jumlahnya dan tidak layak untuk digunakan. Selain itu, fasilitas pejalan kaki juga digunakan untuk orang-orang berjualan atau memarkir kendaraannya. Tidak sedikit pula masyarakat yang kurang senang dengan perbuatan masyarakat lain yang sering melanggar peraturan. Lalu, selain pejalan kaki yang membuat kacau, ada juga pengamen ataupun pedagang asongan yang juga mengganggu jalanan para pengendara.Dampak negatif yang terlihat juga dari keindahan kota yang tidak tertata dan asri lagi, menimbulkan presepsi yang membuat jelek image masyarakat di kota itu sendiri.Pemakai kendaraan bermotor kadang juga menyadari bahwa itu pelanggaran dan sebaliknya, tidak suka karna perbuatan pelanggaran yang dilakukan orang lain karna merasa merugikan orang lain. Ketertiban lalu lintas merupakan suatu keadaan berlalu lintas yang berlangsung secara teratur sesuai dengan hak dan kewajiban semua pengguna jalan. Masalah ketertiban berlalu lintas di jalan raya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pihak kepolisian tetapi seluruh masyarakat pengguna jalan. Seluruh penguna jalan memiliki kewajiban untuk menaati peraturan rambu lalu lintas. Hal ini setidaknya mengurangi tingginya angka kecelakaan di jalan raya, banyak lagi peraturan-peraturan di jalan raya yang seharusnya kita patuhi. Contohnya seperti tidak menerobos lampu merah, tidak menerobos jalur busway,menggunakan helm bagi kendaraan beroda dua dan juga setiap pengendara seharusnya memiliki surat pengendara yang lengkap sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Akhir-akhir ini banyak sekali masyarakat yang mengendarai kendaraan sambil bermain HP atau menelpon,melawan arah, dan juga pelanggaran lainnya yang sangat menyebabkan kekacauan lalu lintas. Peraturan pemerintah yang sudah dibuat seputar lalu lintas dan jalan raya yang tercantum di UU no.22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan pun hanya berlaku untuk sebagian masyarakat yang masih mau menati rambu lalu lintas. Padahal peraturan ini diharapkan bisa membuat masyarakat tertib dalam berlalu lintas dan ramah bagi para pengguna jalan dan mengerti terhadap sanksi yang diberikan. Namun pada akhirnya masih sangat banyak masyarakat yang belum bisa menaati peraturan tersebut dan selalu saja melanggar rambu lalu lintas. Melanggar rambu-rambu lalu lintas bisa dibilang sudah menjadi tabiat masing-masing masyarakat. Kebiasaan masyarakat saat ini sangat sulit untuk dirubah sehingga banyak sekali hal-hal yang perlu dilakukan dalam melakukan perubahan termasuk penetapan UU tentang lalu lintas. Pada saat ini angka kecelakaan di Jakarta semakin meningkat. Hal itu disebabkan oleh banyaknya pengguna transportasi melanggar rambu lalu lintas.

Seperti halnya, banyaknya pengemudi yang bermain HP saat sedang mengemudi. Mengemudi dengan bermain HP sangat jelas dilarang dan dalam undang-undang no.22 tahun 2009, pasal 283 “mengemudi secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi : sanksi pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp.750.000,- (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah), undang-undang ini begitu jelas tetapi banyak orang yang masih melakukannya dikarenakan kurangnya partisipasi masyarakat dalam membantu para penegak hukum. Juga kurangnya rasa perduli masyarakat terhadap rambu lalu lintas dan juga kurangnya kesadaran masyarakat terhadap keselamatan sesama pengguna jalan. Lalu selain itu, ada juga kendaraan yang berbelok tidak menyalakan lampu sein. Di kota ini kedisiplinan dalam berlalu lintas masih sangat rendah.

Seperti tidak menyalakan lampu sein saat berbelok, sering kali para pengendara menganggap itu adalah hal yang remeh. Padahal tidak memberikan tanda ketika akan berbelok itu sangat berbahaya dan tentunya menyebabkan kecelakaan. Hal ini juga tercantum dalam UU no.22 tahun 2009, pasal 294 “berbelok atau berbalik arah tanpa member isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan, sanksi pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp.100.000,- (seratus ribu rupiah). Ada juga pelanggaran peraturan rambu lalu lintas yang lain, yaitu, anak-anak dibawah umur yang sudah bisa mengemudi, baik itu mobil ataupun motor. Tapi pada dasarnya, anak-anak sekolah saat ini yang dengan lincahnya mengemudi namun mereka tidak mempunyai surat izin mengemudi atau SIM. Tidak hanya anak-anak dibawah umur saja, ada juga orang dewasa maupun orang tua. Dalam UU no.22 tahun 2009 pasal 281 “setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dijalan yang tidak memiliki surat izin mengemudi sebagaimana dimaksud dalam pasal 77 ayat 1 dipidana kurungan paling lama 4 bulan atau denda paling banyak Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah).

Dalam undang-undang ini sudah sangat jelas setiap orang yang tidak memiliki surat izin mengemudi dapat terkena sanksi. Tapi dalam kehidupan sehari-hari masih banyak pengemudi yang tidak memiliki SIM, dan juga terkait sanksi yang di undang-undang tidak sama dengan yang di praktikan dalam keseharian. Lalu dengan pengendara motor yang tidak memakai helm saat mengendarai motor. Hal ini sangat fatal karena helm bertujuan untuk melindungi kepala kita yang sangat lunak, tapi sering kali hal ini masih terjadi di masyarakat, banyak sekali pengendara yang tidak memakai helm disaat mereka akan bepergian ke kota-kota ataupun bepergian jauh, tetapi ketika mereka hanya bepergian ketempat yang tidak jauh terkadang mereka tidak memakai helm, dan juga ketika banyak penumpag tidak memakai helm. Menurut UU NO. 22 TAHUN 2009, Pasal 291 “Tidak menggunakan helm SNI; sanksi pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp. 250.000.-(dua ratus lima puluh ribu rupiah): membiarkan penumpang tidak menggunakan helm sanksi pidana kurungan paling lama 1(satu)bulan dan denda Rp. 250.000.-(dua ratus lima puluh ribu rupiah). Setelah itu, di kota ini masih sangat sering terjadinya pelanggaran rambu lalu lintas dan marka jalan. Melihat motor atau mobil yang melanggar rambu-rambu atau marka jalan bukan pemandangan yang asing di kota ini.

Mereka tampak biasa saja dan tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri ataupun orang lain, yang penting mereka bisa lebih cepat sampai kea rah tujuan mereka. Kecelakan lalu lintaspun meningkat padahal peraturan yang ada melanggar rambu-rambu lalu lintas merupakan suatu pelanggaran hukum, tindakan melanggar rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan adalah perbuatan yang melanggar UU NO. 22 TAHUN 2009. Pasal 287 “Melanggar lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas. Sanksi pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp. 500.000-, (lima ratus ribu rupiah). Hal tersebut sudah jelas termuat dalam undang-undang tapi masih banyak para pengendara yang dengan santainya melanggar rambu-rambu lalu lintas. Meski berbagai aturan sudah dikeluarkan untuk membuat situasi lalu lintas tetap kondusif, pada kenyataannya masih saja banyak pengguna jalan yang tidak mengindahkan aturan-aturan tersebut. Berbagai pelanggaran kerap dilakukan. Ironisnya, kelalaian tersebut tak jarang merugikan orang lain. Seringkali terjadi kecelakaan yang membuat orang lain terluka atau bahkan tewas. Dalam beberapa hal tersebut, mentaati lalu lintas sangat penting dalam kehidupan kita, meskipun apa yang sudah di tuliskan di undang-undang mengenai sanksi dan sebabnya belum terlihat nyata dalam Negara ini, dan terkadang masyarakat biasa, tidak tahu mengenai sanksi dan pelanggaran yang kita langgar, dan akhirnya sanksi ya ng di berikan tidak sesui dengan undang-undang.

Akan tetapi ketertiban merupakan salah satu yang mencerminan sikap kedisiplinan kita, keselamatan merupakan hal yang paling penting dalam diri kita. Meskipun saat ini di perdesaan ataupun di kota besar penertiban lalu lintas sangatlah berbeda, dimana di kota-kota besar banyak sekali rambu-rambu dan di jaga oleh polisi atau penegak hukum, sedangkan di desa sebaliknya. Menurut saya penyebab dari pelanggaran lalu lintas itu tak hanya disebabkan oleh satu atau dua hal saja. Namun, penyebabnya adalah seperti, minimnya pengetahuan masyarakat terhadap peraturan lalu lintas yang berlaku di Indonesia. Hal tersebut dikarnakan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mencari tahu peraturan lalu lintas atau rambu-rambu lalu lintas. Lalu juga, hanya patuh ketika ada kabar bahwa akan ada rajia atau saat ada polisi. Ini sudah hal biasa yang sering kita lihat dijalanan bahkan kita sendiri sering melakukan ini. Tidak memikirkan keselamatan pengendara lain atau masyarakat yang ada di sekitar jalan. Contohnya pengendara motor tidak memakai helm, kaca spion dan tidak menyalakan lampu disiang hari. Pada 2009 keluar aturan dalam bentuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 107 yang mengharuskan pengendara sepeda motor menghidupkan lampu di siang hari. Kebijakan tersebut sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan pengguna motor. Mereka beranggapan menyalakan lampu pada siang hari sama saja memperpendek usia aki dan bola lampu yang ada didalam motor. Tapi bila dikaitkan dengan keselamatan, menyalakan lampu utama di siang hari atau biasa dikenal daytime running light (DRL) bisa mengurangi potensi kecelakaan. Data mencatat jumlah kecelakaan lalu lintas melibatkan sepeda motor merupakan yang tertinggi dibanding sarana transportasi lain. Penyebab kecelakaan tertinggi adalah faktor manusia. Ditlantas Polda Metro Jaya menyebutkan penggunaan DRL mampu mengurangi risiko kecelakaan hingga 20 persen. Bahkan di Surabaya penggunaan DRL mampu menekan kecelakaan hingga 50 persen. Untuk itu, perlu “sistem” yang bisa membantu pengendara aware dengan kondisi lalu lintas. “Penting kalau siang-siang menyalakan lampu. Hasil survei mengungkap ketika kita berkendara dari arah yang berlawanan ada sinar yang datang, pupil mata akan tertarik (mengikuti atau tertuju ke arah cahaya). Efeknya, si pengemudi menjadi lebih peduli dan perhatian,” terang Bebin Djuana, pakar automotif. Sama halnya dengan cahaya lampu kendaraan yang datang dari arah belakang. “Di belakang pun secara sadar atau tidak sadar bila ada cahaya datang maka si pengemudi akan melirik ke spion. Coba kalau tidak menyalakan lampu pasti sopir tidak mengetahui ada kendaraan di belakangnya,” pungkasnya.

Lalu ada juga tentang pentingnya memakai safetybelt atau sabuk pengaman. Safety belt adalah bentuk perlindung tubuh yang dikenakan pada saat mengendarai mobil berbentuk sabuk / selempang yang termasuk dalam perlengkapan kendaraan terbuat dari bahan keras dan lentur.
Menggunakan safety belt saat kita mengendarai mobil sangat penting, karena dapat menyelamatkan nyawa kita dan juga para penumpang kita. Semua orang tidak ingin terjadi kecelakaan tapi setidaknya kita harus berusaha untuk menyelamatkan nyawa kita ketika terjadi kecelakaan dengan menggunakan alat keselamatan diri yaitu sabuk keselamatan. Penumpang tanpa safetyt belt akan meluncur keras menumbuk apa saja yang ada didepannya, sedangkan penumpang dengan safety belt akan tetap bertahan dikursi karena adanya energi kinetik tubuh diredam safety belt.
Banyak kita lihat,apa lagi didaerah –daerah pengemudi kendaraan roda empat banyak yang tidak menggunakan safety belt.Pada hal penggunaan safety belt sangat lah penting demi keselamatan pengemudi.Sepeti yang kita cermati bersama melalui media baik televisi maupun surat kabar,banyak sekali korban berjatuhan dikerenakan tidak menggunakn safety belt yang benar.disaat terjadi nya kecelakaan, kepala nya terbentur dengan kaca,dan mengakibat luka parah,sehingga mengakibatkan pengemudi dan penumpang meninggal dunia.
Dalam Undang undang nomor 22 tahun 2009 pasal 289 menyebutkan bahwa Pasal 289 Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor atau
Penumpang yang duduk di samping Pengemudi yang tidak
mengenakan sabuk keselamatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 106 ayat (6) dipidana dengan pidana kurungan
paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak
Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).
Perilaku menerobos palang pintu kereta sepertinya jadi pemandangan sehari-hari di perlintasan kereta api. Alasan terburu-buru dan kereta yang belum terlihat jadi pembenaran untuk menerobos palang yang sudah menutup dan sinyal yang sudah berbunyi. Sepertinya para pengguna jalan raya tidak menyadari, perilaku menerobos palang kereta ini juga merupakan bentuk pelanggaran.Seperti yang tertulis pada undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Pada pasal 114 tertulis, pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah ditutup dan atau ada isyarat lain. Selain itu masih pada pasal yang sama, wajib mendahulukan kereta api, dan memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintasi rel. Selain itu berdasarkan pasal 296, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor pada perlintasan antara kereta api dan jalan, yang tidak berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan atau ada isyarat lain dapat dipidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750.000.

Yang terakhir, bisa langsung mengurus pelanggaran lalu lintas di tempat atau kata lain “damai”. Hal ini lah yang sering terjadi di setiap ada rajia polisi atau pelanggaran lalu lintas, hal yang pertama yang dipikirkan oleh pengendara saat terkena tilang karena melakukan pelanggaran lalu lintas adalah jalan “damai”. Cara untuk mengatasi pelanggaran rambu lalu lintas menurut saya adalah, Pemerintah harus lebih bersosialisai kemasyarakat dalam peraturan-peraturan lalu lintas. Jadi masyarakat bisa tahu apa saja peraturan-peraturan lalu lintas yang berlaku atau yang baru diterapkan. Pemerintah harus menindak lanjuti petugas-petugas yang tidak mendukungnya hukum pidana atau petugas yang menyelesaikan masalah pelanggaran lalu lintas di tempat dalam kata lain jalur “damai”. Pendidikan bagi pengemudi. Sekolah pengemudi merupakan suatu lembaga yang bertujuan untuk mengahasilkan pengemudi pengendara bermotor cakap dan terampil dalam mencegah kecelakaan maupun pelanggaran lalu lintas. Menambah atau memperbaiki rambu-rambu lalu lintas yang ada dijalan. Kesimpulannya adalah penegak peraturan lalu lintas harus menjadi teladan bagi masyarakat yang berkendara. Seorang penegak hukum harus mempunyai sifat yang lugas, menjadi penegak hukum dijalan raya bukanlah hal yang mudah melainkan menjadi hal yang rumit, penegak hukum harus menjaga kewibawaannya untuk kepentingan profesinya di lain pihak juga harus percaya diri karena penegak hukum akan mengambil keputusan yang bijaksana untuk menghasilkan keadilan. Masyarakat Indonesia masih banyak yang melanggar lalu lintas dengan tidak sengaja maupun dengan sengaja. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarkat terhadap peraturan lalu lintas atau tata tertib lalu lintas, sehingga masyarakat menyepelekan kesalamatannya sendiri bahkan bisa berdampak terhapad keselamatan orang lain, karena itulah tingkat kecelakan di jalan terus meningkat.

Penyebab pelanggaran lalu lintas kebanyakan dikarenakan juga masyarakat terlalu terburu-buru dalam berkendara, mungkin kemacetan adalah penyebab dari pengendara yang terburu-buru dalam berkendara karena waktu mereka tersita terkena macet dijalan. Saran saya untuk pengguna jalan di kota ini khususnya untuk pengendara motor adalah pengendara bermotor harus memiliki etika kesopanan di jalan dan harus mematuhi atau melaksanakan tata tertib lalu lintas, terutama tata tertib keamanan berlalu lintas supaya tidak merenggut korban jiwa dan bisa merugikan orang lain. hal ini harus disadari pada setiap pengendara bermotor di jalan agar tidak ada yang dirugikan. Penegak peraturan lalu lintas harus tegas dalam menangani para pelanggar lalu lintas dan memprosesnya secara hukum. Penegak hukum peraturan lalu lintas harus lebih rajin merazia pengendara bermotor yang melanggar peraturan lalu lintas tidak hanya disiang hari tapi di malam hari karena banyak pengendara bermotor yang ugal-ugalan atau memacu kendaraanya terlalu cepat sehingga bisa mengancam keselamatan dirinya maupun orang lain.