Pakar Seks: Alasan Pria Rela Bayar Mahal Demi Bercinta dengan Artis Karena Kepuasan Batin

0
Beberapa belakangan ini beredar kasus prostitusi online yang melibatkan artis Vanessa Angel. Salah seorang pengusahan pertambangan pasir pun mencuat sebagai pemakai jasa dugaan prostitusi online artis Vanessa Angel.
Kasubdit cyber crime Ditreskrimus polda jatim mengatakan bahwa Rian mengaku ia merupakan pengemar Vanessa Angel. Dan menurut laporan yang ada, pengusahan pertambangan pasir ini rela mengeluarkan uang hingga puluhan juta (Rp 80 Jt) untuk prostitusi online. namun jika kita lihat dari sisi psikologis, apa yang menjadi alasan pria mengeluarkan uang sebegitu banyak nya hanya demi ‘jajan’ seks?
Klinis Zoya Amirin, M.Psi, FIAS yang merupakan seksolog pun mengungkapkan jika memakai jasa pekerja seks adalah cara yang tidak melibatkan perasaan dan tidak merepotkan pria saat berhubungan intim. Namun jika mengeluarkan uang hingga puluhan juta hanya untuk bercinta dengan seorang artis itu pun diangap dapat memenuhi ego pria dan kebanggan atas dirinya sendiri.
“Dasarnya kalau soal duit mah gampang karena uang 80 juta itu kecil bagi pengusaha besar. Tapi, dari sisi psikologis sebenarnya harga diri dia yang besar, yakni perempuan dari pendampingnya dia, yang istilahnya dipakai sama dia bisa dibanggain, 80 juta itu adalah harga egonya si laki, karena kalau misalnya ada marketing, kalau makin mahal berarti ada tanda-tanda servisnya makin oke,” ungkap Zoya saat seperti dikutip Wolipop, Selasa (8/1/2018).
Jadi sebenarnya membeli Rp 80 juta itu yang banyak dipuaskan adalah kebutuhan egonya, makin bikin harga dirinya tinggi. Ada kebanggaan tersendiri dia dilayani dengan artis cantik,” imbuhnya.
psikolog Kasandra Putranto, yang di hubungi secara terpisah mengatakan hal yang lebih kompleks mengenai penyebab pria sampai mengeluarkan puluhan juta rupiah demi melakukan seks dengan artis. Kasandra menjelaskan prostitusi pada dasarnya muncul karena situasi sosial dipersepsikan sebagai tidak ada cara lain untuk bisa memperoleh nafkah dengan segala keterbatasan diri.
Manusia yang merupakan pelaku prostitusi adalah sebagai sosok yang dalam kepribadiannya memiliki faktor intelegensia, emosional dan sosial serta spiritual jelas Kasandra. Di sisi lain manusia juga memiliki kebutuhan primer yaitu makan, tidur dan seksual.
“Namun dengan batasan hukum agama dan etika, proses pemenuhan kebutuhan tersebut diupayakan dikendalikan sesuai dengan norma yang berlaku. Baik bagi pemakai jasa prostitusi maupun sebagai penyedia jasa dan pelaku jasa prostitusi, masing-masing berusaha memenuhi kebutuhan primer hidupnya. Ada yang sudah menikah ada yang belum, ada yang terus menerus karena terjebak kenikmatan daur reward yang akhirnya memperkuat perilaku,” jelas Kasandra.
Kasandra menambahkan reward yang didapat bagi pengguna jasa adalah pemenuhan kebutuhan seksual plus kebanggaan karena bisa sama artis. Reward bagi penyedia jasa adalah uang yang bisa dipakai buat memenuhi kebutuhan hidup. Reward bagi pelaku jasa adalah uang yang bisa dipakai memenuhi kebutuhan dan gaya hidup yang meningkat di samping kebutuhan seksual
Tapi, Kasandra turut menyayangkan undang-undang di Indonesia yang hanya menjerat penyedia jasa yaitu mucikari. Seharusnya pelaku dan pengguna jasa juga dikenakan hukuman. Khusus untuk pelaku, hukuman ini sebaiknya tidak diterapkan tanpa melihat kasusnya.
“Pada banyak kasus yang lebih sering terjadi adalah kasus human trafficking. Yang paling dulu harus dihukum adalah pengguna jasanya bukan pelaku. Pada banyak kasus, pelaku adalah korban yang dijerat oleh penyedia jasa dengan memanfaatkan kemiskinan,” imbuh Kasandra.
Advertisement