NKRI adalah Kesepakatan Ulama

0

Oleh : Roni Arifin (Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Tasikmalaya)

Sumpah Pemuda adalah momentum besar titik temu Keislaman-Keindonesiaan. Ikrar tanah air, bangsa, dan bahasa nan satu yaitu Indonesia dikumandangkan dan dijadikan sebagai pedoman utama bahwa Indonesia adalah suatu kesatuan yang utuh.

Dalam perspektif Islam, kesadaran hidup berbangsa menjiwai munculnya rasa persatuan untuk menyatu dalam satu rasa kebangsaan.

Advertisement

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Al-Hujurat:13).

Ulama pendiri bangsa adalah tokoh – tokoh kharismatik dengan semangat kebangsaan yang tidak perlu dipertanyakan. Tidak ada egoisme untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, keberagaman adalah kekayaan yang tidak untuk diperdebatkan.

Pancasila sebagai nilai luhur bangsa Indonesia adalah implementasi dari Shahifatul Madinah (Perjanjian Madinah). Aspek kesalehan sosial terpatri erat dalam nilai-nilai Pancasila atau dalam dogma Islam disebut Habluminannas (hubungan sesama manusia).

Hubbol Wathon Minnal Iman, Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman. Pegangan teguh para ulama dalam memposisikan antara agama dan negara.

Ulama adalah bapak bangsa penuh kesahajaan membangun bangsa baik dari sisi kultural masyarakat maupun saat diberikan amanah pemimpin bangsa. Sikap moral yang selalu dijunjung tinggi menjadikan ulama dijadikan panutan dan begitu banyak yang menginginkan dipimpin ulama.

Ulama tidak sekedar menguasai ilmu keislman, gelar tinggi dan berbagai penelitian ilmiah disiplin ilmu umum tak sedikit yang dikuasai ulama. Mengacu kepada prinsip Islam Rahmatan Lil Alamin, Islam adalah universal dan mengikuti perkembangan zaman.

Ulama merupakan sosok representasi kebenaran sejati. Penyambung lidah yang mengungkapkan makna yang hakiki.

Pembimbing dan penuntun keutuhan serta duta kemanusiaan. Gerak dan pikirnya dapat dipertanggungjawabkan karena dilandasi tujuan meraih kebahagiaan abadi.

Tidaklah berlebihan jika referensi utama pemimpin layak disematkan kepada ulama.
Pilpres 2019 yang beberapa bulan lagi akan digelar turut menghadirkan serang ulama.

Adalah Prof. KH. Ma’ruf Amin, Calon wakil Presiden nomor urut 01 mendampingi petahana. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa ulama adalah pribadi yang multi talenta, begitupun juga dengan Prof. KH. Ma’ruf Amin.

Sudah tak terhitung karya dan jurnal ilmiahnya jadi panduan praktisi dan akademik.
“Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (harta). Mereka hanyalah mewariskan ilmu.

Barang siapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak (menguntungkan).” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Tidak ada yang berani mempertanyakan rekam jejak dan sumbangsih Prof. KH. Ma’ruf Amin sebagai ulama.

Salah satunya jabatan Rais Aam PBNU dapat mengkonfirmasi itu. Rais Aam yang kadang disebut publik dengan Ketua Umum para Kiai Besar.

Kiprah Ketua Umum MUI semakin meyakinkan bahwa Prof. KH. Ma’ruf Amin layak mengemban amanah sebagi pemimpin bangsa, yaitu Wakil Presiden Republik Indonesia 2019.

Pemimpin yang ideal untuk negeri yang kaya raya dan penuh keberagaman. Tangan dingin dan wibawa ulama sangat diperlukan untuk mengantarkan Indonesia menuju super power di Dunia.

Info Lomba Terbaru