Melacak Jejak Sastra Persia di Tanah Melayu

0

JAKARTA, KataIndonesia.com – Sebagian orang umumnya tidak akan mengira kalau ada kata yang selama ini akrab di telinga dan sering diucapkan, seperti kata pasar, baju, nenek, bius, termasuk biadab, bedebah, dan bahkan pirang, berasal atau merupakan serapan dari bahasa asing.
Informasi itu diberikan Bastian Zulyeno di acara Seri Diskusi Nusantara #5 bertema “Kronologis Sastra Persia dalam Naskah Melayu” yang digelar oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI bersama Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Mannasa) Pusat, Selasa (15/5). Bastian Zulyeno adalah dosen di Program Studi Arab, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI). Pria kelahiran Bagansiapiapi ini menyelesaikan S1-nya di Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta, dan mengambil S2 serta S3-nya di Jurusan Sastra Persia di Teheran, Iran.

“Catatan sebelumnya mengatakan ada sejumlah empat ratus tiga puluh…, empat ratus tiga puluh dua atau… Tapi saya tidak pernah melihat data itu, yang disebut pas empat ratus tiga puluh dua,” jelas Bastian tentang jumlah kata yang berasal dari Bahasa Persia dan diserap ke dalam Bahasa Melayu.
Bastian kemudian memberi contoh kata-kata yang berasal dari Bahasa Persia, seperti syahbandar, bius, biadab, bedebah, anggur, gandum, kurma, kismis, nakhoda, nisan, dan beberapa lagi lainnya.
“Pirang, ketika saya melihat teks lama Parsi, itu ada ferang […] Ferang di situ yang artinya orang Rusia, orang Rusia yang kulit kuning. Kalau di naskah lama klasik Parsi itu kalau ketemu ferang itu, itu artinya orang Eropa yang berkulit kuning. Nah, sampai ke sini pirang itu. Rambut pirang. Dari Parsi,” ujar Bastian.
Menurut Bastian, secara linguistik kontak antara kedua bahasa itu memang ada. Hanya saja tidak diketahui secara pasti kapan waktunya, Bastian kemudian menceritakan penelitian yang dilakukannya tahun lalu di Barus. Ia meneliti identitas Persia di makam kuno. Di Barus, yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari Sibolga, ini terdapat makam Syekh Mahmud yang memiliki 800 anak tangga.

Pada nisan makam Syekh Mahmud itu terdapat tulisan atau aksara Persia, berupa puisi. Setelah dibaca oleh Bastian, bunyinya, ”Jahan yadgar ast ma raftani/ze mardum nemanad bejuz-e mardumi.” Artinya, ”Dunia adalah kenangan, kita akan pergi/Yang tersisa dari manusia hanyalah kemanusiaan.” Namun sayangnya, makam ini tidak berangka tahun.

“Ini jelas sekali, puisi ini kalau kita dalami puisinya, pasti orang yang membacanya atau penerima pesan dalam keadaan yang damai, bukan dalam konflik. Karena dia menasehatkan, ya. Isi dari puisi ini menasehatkan. Ini lho dunia itu seperti ini,” terang Bastian.

Setelah ditelusuri oleh Bastian ternyata puisi di nisan Syekh Mahmud adalah puisi milik Firdausi (940-1020 M). Puisi Firdausi ini termuat di mahakarya Syahnameh, di dalam Bab Peperangan antara Rostam dan Esfandiyar, Pasal 26.

“Nah, kemungkinan kontak atau dokumen yang tertua tentang kontak Bahasa Persia di Tanah Melayu, ya di kuburan tadi. Karena berdasarkan puisi yang puisi itu punya penyair abad 10. Kemungkinan (kuburan) itu abad 11,” kata Bastian.
Oleh Karena itu, Bastian lantas mengatakan bahwa abad ke-11 sudah ada tulisan Persia di Melayu. Tidak ada yang lebih tua dari tulisan di batu nisan Syekh Mahmud itu.

Bastian memperkirakan masyarakat setempat sekitar batu nisan Syekh Mahmud pasti sudah akrab dengan puisi. Tidak mungkin tiba-tiba ada puisi. Jadi, menurut Bastian, yang menyebarkan Islam adalah para intelektual dan sastrawan. Kalaupun pedagang mereka juga pasti para intelektual dan sastrawan.


“Masyarakat leluhur kita pun juga orang pintar. Memang di tempat lain itu, Islam harus masuk dengan pedang. Persia itu Islam masuk dengan pedang, untuk menaklukkan Persia itu. Lari atau jadi tawanan, atau masuk Islam. Karena memang sulit untuk mengekspansi, masuk agama,” kata Bastian.

Dan, buku-buku atau naskah-naskah dari leluhur yang sampai ke kita, menurut Bastian, rata-rata adalah tasawuf. Hal itu juga terlihat dari tokoh-tokoh yang ada, seperti di Aceh atau Sumatra ada Ar-Raniri, kemudian ada Hamzah Fanzuri, di Jawa ada Nawawi al Bantani, dan di Kalimantan ada al Banjari.

Bastian juga menunjukkan suatu kasus bagaimana warna Persia tampil di suatu kitab atau naskah. Kitab yang dijadikan contoh yaitu Tajussalatin, yang ditulis oleh Bukhari al Jauhari atau al Johori di tahun 1603 sebagai persembahan kepada Sultan Aceh Alauddin Riayyat Syah yang bertahta 1589-1604.

“Dipersembahkan kepada raja. Ini lho sumbangan dia untuk diberikan kepada raja. Bagaimana mengatur sebuah pemerintahan, sebuah kerajaan yang multietnik dan multikultur. Jadi ini kitab tatanegara, ketatanegaraan. Kitab pertama ketatanegaraan dalam naskah Melayu,” ujar Bastian.

Banyak alasan kenapa Bastian mengambil Tajussalatin sebagai contoh kasus. Tajussalatin ini sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, seperti Bahasa Belanda (1828), Perancis (1878). Dan, dialihaksarakan ke dalam aksara Jawa di tahun 1851, yang kemudian dikenal dengan nama Serat Tajussalatin, atas perintah Hamengkubuwono,

Tajussalatin adalah Bahasa Arab yang berarti Mahkota Raja-Raja. Kitab ini juga menjadi perhatian beberapa ahli. Seperti Hooykas, mengatakan Tajussalatin adalah kitab dengan judul Arab, isi khas Sastra Persia, dan ditulis dalam Bahasa Melayu.

Sementara, menurut Braginsky, kitab ini merupakan buku pertama berbahasa Melayu yang membahas masalah politik, pemerintahan, dan akhlak. Mahkota dari semua naskah-naskah Melayu, kata Deholander.

Oleh Van Eysinga dikatakan sebagai kitab yang menggunakan Bahasa Melayu murni yang tak ada tandingannya dan berjaya pada masanya. Dan Brakel, menyebutnya sebagai salah satu buku etika dan didaktis dalam Bahasa Melayu.

“Jadi ini perlu saya sampaikan karena kita sendiri dengar Tajussalatin, atau dengar remang-remang Tajussalatin itu apa, cuman tidak tahu isinya. Saya harus sampaikan. Ini buku ditulis di Aceh. Ketika saya seminar di Aceh pun saya sampaikan tentang Tajussalatin. Itu banyak yang nggak tahu,” kata Bastian.

Buku atau naskah Tajussalatin terdiri dari 24 pasal. Dan, menurut Bastian, seperti ciri khas buku-buku yang bernuansa sufistik lainnya, pasal pertama tentang bagaimana kita mengenal manusia, kemudian mengenal Tuhan selaku pencipta, selanjutnya membicarakan arti kehidupan di dunia, dan keempat akhir kehidupan di dunia.

“Ini mirip dengan Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali. Ya, jadi selalu, pertama kenal manusia sendiri, kemudian kenal Tuhan, kemudian kenal dunia, baru kenal akherat,” ujar Bastian.
Pasal-pasal selanjutnya membicarakan arti adil dan keadilan. Termasuk membicarakan metode pelaksanaan keadilan di pemerintahan. Menurut Bastian, buku Tajussalatin ini titik sentralnya memang tentang keadilan. Maka dibicarakan juga pekerti raja-raja yang adil. Termasuk membicarakan raja kafir tetapi adil. Dan, dibahas juga tentang raja-raja yang zalim.

“Betapa leluhur kita itu juga orang intelektual ya, yang multietnik kemudian dikasih pedoman seperti ini. Dia memberikan contoh di sini, siapa raja, bagaimana raja itu, bagaimana pemimpin itu kafir tapi rakyatnya muslim. Bagaimana menghadapinya. Bagaimana, dicontohkan di situ,” ujar Bastian

Kedudukan akal budi atau soal akhlak bahkan sudah dibicarakan oleh leluhur kita di awal abad ke-17. Termasuk syarat-syarat sebuah kerajaan dan ilmu Qiyafah dan firasat. Ilmu Qiyafah, kata Bastian, yaitu ilmu untuk menilai orang berdasar fisik dan wajah.
Termasuk di pasal selanjutnya ditunjukkan tanda-tanda fisik seseorang dan artinya. Misal, bentuk fisik tertentu punya arti tertentu pula. Selanjutnya dibicarakan hubungan rakyat dan raja yang sama-sama beragama Islam. Termasuk dibicarakan pula hubungan rakyat yang tidak beragama Islam tapi rajanya Islam.
Pasal-pasal terakhir dibicarakan tentang pentingnya kedermawanan dan kemurahan hati. Juga bagaimana memegang dan patuh pada janji. Dan, pasal terakhir menyatakan kesudahan kitab.

Jika menggunakan perspektif sastra, menurut Bastian, ada empat genre puisi Persia dalam Tajussalatin. Yaitu, genre puisi Ghazal, Ruba’i, Qit’ah, dan Masnawi. Masing-masing genre itu di dalam Sastra Persia ada tokohnya.

Seperti Rudaki (858-941 M) yang disebut sebagai Bapak Penyair Persia, mengusung genre Ghazal. Omar Khayyam (1048-1131 M) mengusung genre Ruba’i. Anwari (1126-1189 M) untuk genre Qit’ah, dan Rumi (1207-1273 M) mengusung genre Masnawi.

Di Tajussalatin juga disebutkan tentang raja-raja Persia. Meski nama-nama itu tidak akrab bagi pembaca Melayu, mereka ditampilkan untuk menguatkan tema-tema tiap pasal, dalam bentuk cerita pendek.

“Mungkin cerpen pertama kali di dunia Melayu di situ itu. Ada cerita-cerita pendek yang berhubungan dengan raja-raja itu,” ujar Bastian yang disertasinya membandingkan Tajussalatin dengan kitab lain yang lebih tua sepuluh abad.

Misal, Raja Anusyirwan (501-579 M) yang terkenal adil dan bertahta pada Dinasti Sasanid. Raja ini di naskah Melayu menjadi tokoh raja yang adil tetapi kafir. Seperti dibahas di pasal Tajussalatin yang membicarakan hubungan raja kafir dengan rakyat.

“Ada bahkan, tidak tahu juga, tapi disebutkan di situ hadis Nabi mengatakan, ‘Aku lahir di zaman raja yang adil’. Kata hadis Nabi. Hadis Rasulullah di Tajussalatin disebutkan. Coba yang ahli hadis silahkan dilacak, apakah itu hadis. Tapi disebutkan Nabi Muhammad pernah bersabda seperti itu,” kata Bastian.

Menurut Bastian, orang-orang yang datang atau membawa pengaruh juga sadar bahwa Tanah Melayu bukan tanah sembarangan. Yang dihadapi adalah orang-orang yang juga cerdas. Kalau tidak, akan susah untuk bisa saling berhubungan.

“Sultan Humayun, salah satu raja pada Dinasti Mughal, 1508 sampai 1556. Disebutkan di situ di dalam Tajussalatin. Kita bisa bayangkan Tajussalatin selesai 1603. Dia masih bisa menyebutkan orang yang hidup lima puluh tahun sebelum buku ini diselesaikan,” ujar Bastian.

Selain nama raja-raja juga digunakan kisah-kisah Persia di dalam Tajussalatin. Kisah-kisah ini juga untuk memperkuat tema-tema yang ada di Tajussalatin. Misal kisah Rast Ravesyn, mentri yang terkenal jujur tetapi akhirnya berkhianat kepada Raja Gustasp dalam Dinasti Kiyami. Uniknya, ada kisah yang di Iran sendiri sudah tidak ada yang tahu, tapi ada di Tasussalatin.

Di Tajussalatin juga ada tamsil Persia yang dikutip langsung dalam Bahasa Persia dan kemudian dituliskan artinya. Salah satu tamsil disebutkan di Tajussalatin sebagai tamsil Syekh Atthar. Menurut Bastian, Fariddudun Atthar ini seorang sufi yang hidup tahun 1145-1221 M, dan memiliki buku berjudul “Musyawarah Burung”.
Ada pendapat bahwa Tajussalatin merupakan terjemahan dari Bahasa Persia. Pendapat seperti itu dilontarkan oleh sebagian besar ilmuwan abad 19. Hanya satu ilmuwan yang mengatakan bahwa Tajussalatin bukan terjemahan, yaitu Braginsky.

“Nah, dia mengatakan ini bukan terjemahan. Bukan terjemahan. Alasan dia, penjelasan-penjelasan detail tentang alam dan tanah melayu. Jelas detail sekali di situ di Tajussalatin. Ada musim hujan, ada musim kemarau, ada kerbau, ada keris, ada periuk, ada bakul. Di mana Persia yang ada bakul dan periuk itu? Ada musim hujan. Di mana Persia ada musim hujan? Hujan setahun cuman dua minggu,” kata Bastian yang memang pernah tinggal di Iran.

Juga ada fakta lain yang menguatkan bahwa Tajussalatin bukan karya terjemahan. Sultan Humayun yang disebutkan di Tajussalatin meninggal 1556. Sementara penulisan Tajussalatin sendiri selesai 1603. Ada jarak pendek, kurang dari lima puluh tahun.

“Apa mungkin saat itu dalam waktu empat puluh tahun sudah ada terjemahannya. Sekarang saja belum tentu, ada buku bagus cepat diterjemahkan. Apa mungkin, kata si Braginsky. Apa iya dalam empat puluh tujuh tahun sudah ada terjemahan dari Parsi ke Melayu. Secanggih itu kah dulu itu,” ujar Bastian yang justru telah menerjemahkan Tajussalatin ke dalam Bahasa Persia.

Menurut Bastian, Tajussalatin ini menjadi pintu keluar untuk meneliti naskah lain, terutama naskah yang ada hubungannya dengan Persia atau Arab. Di antaranya, yaitu Hikayat Burung Pinggai, Syair Hamzah Fanzuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Bustan-al Katibin. Naskah-naskah itu ada yang kental dengan tasawuf.

“Kenapa yang datang itu, diplomasi sastra itu, ketika dia mengenalkan Islam harus dengan budaya, sastra. Karena yang dihadapi itu orang-orangnya yang kenal sastra. Kita kenal mantra itu kan jauh sebelum Islam. Pantun itu juga, sebelum syair sudah ada pantun,” tutup Bastian.

 

LAPORAN: RUSDIL FIKRI

Advertisement