Madain Saleh, Kota Peradaban Kuno di antara Kesunyian Padang Gurun Arab Saudi

0

KataIndonesia.com – Kota kuno Madain Saleh tersembunyi di antara hamparan padang gurun Arab Saudi. Kemisteriusannya yang begitu kental terpancar kuat dari reruntuhan serta bangunan-bangunan kuno di dalamnya, sebuah peninggalan berharga dari Kerajaan Nabatea yang kini ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Melihat Madain Saleh, mungkin sekilas kita akan membayangkan bagaimana masa lalunya saat masih dihuni peradaban Nabatea dahulu kala. Dilansir dari BBC, Madain Saleh adalah kota ke-dua terbesar di Kerajaan Nabatea. Posisi pertama ditempati oleh Petra yang terletak di Yordania – yang dulu juga adalah ibu kota Kerajaan Nabatea.

Namun kepopuleran Madain Saleh sebagai kota kuno dan destinasi wisata sejarah masih kalah dibandingkan Petra. Kerajaan Nabatea adalah kerajaan yang makmur dan kaya, karena kemampuan mereka dalam mencari dan menyimpan air di lingkungan padang gurun. Mereka juga memonopoli jalur perdagangan padang gurun yang rutenya melewati kota Madain Saleh, hingga ke pelabuhan Gaza. Mereka memberlakukan pajak kepada para karavan yang bepergian dengan unta.

Namun Kerajaan Nabatea dianeksasi oleh bangsa Roma, dan rute perdagangan baru melalui Laut Merah menjadi lebih populer ketimbang jalur perdagangan yang dimonopoli Nabatea. Kota-kota Nabatea tidak lagi menjadi pusat perdagangan, sehingga banyak penduduk yang lantas meninggalkan kota-kota tersebut, termasuk Madain Saleh.

Saat ini Madain Saleh menyisakan banyak bangunan dan reruntuhan yang pernah menjadi saksi sejarah kemashyuran Nabatea. Sebagian besar kota ternyata masih terkubur di dalam pasir.

Lebih dari 131 makam besar telah ditemukan di Madain Saleh. Di sini, wisatawan dapat melihat sisi artistic peradaban Nabatea melalui pahatan pada bangunan kuno Madain Saleh, yang meliputi pahatan burung elang, hingga makhluk mitologi seperti sphinx dan griffin.

Di antara makam-makam yang masih kokoh berdiri dalam kesunyian Madain Saleh, makam Qasr al Farid adalah salah satu makam yang sangat impresif karena ukuran serta eksterior makam yang relatif simpel.

Terkadang, bebatuan pasir yang seolah berwarna keemasan saat disinari cahaya matahari menjulang tinggi di antara hamparan pasir, dan dipahat menyerupai menara melengkung atau struktur kerucut oleh angin dan hujan.

Berdiri di tengah-tengah harta karun arkeologi Madain Saleh, keheningannya begitu terasa hidup. Sensasi yang berbeda jika Kawan Sumber membandingkannya dengan Petra, yang kerap dipenuhi oleh wisatawan, penjual suvenir dan mereka yang menyediakan jasa naik keledai.

Mungkin, Madain Saleh masih terjaga dengan baik karena situs ini jarang dikunjungi oleh manusia – apalagi visa turis menuju Arab Saudi masih sulit untuk didapatkan, ditambah lagi dengan iklim padang gurun Arab Saudi yangbegitu kering. Di saat muka bangunan kuno di Petra perlahan mulai berubah, makam-makam di Madain Saleh mayoritas masih utuh dan terjaga baik.

Ada juga yang unik, yakni jalur masuk menuju Jabal Ithlib – formasi bebatuan monumental yang dipercaya sebagai tempat penduduk Nabatea menyembah dewa mereka, Dushara. Jalur masuk menuju Jabal Ithlib merupakan jalan yang terbentuk secara natural, dengan sisi-sisi dindingnya yang dipahat dengan berbagai gambar dewa-dewa Nabatea, hewan unta dan kehidupan perdagangan penduduk lokal.

Kendati masih berada di wilayah Madinah, Arab Saudi, pemeluk agama Muslim tidak mendatangi Madain Saleh karena mereka percaya Madain Saleh telah dikutuk, saat bangsa Nabatea menolak untuk meninggalkan kepercayaan mereka dan beralih ke agama Islam.

Kota kuno Madain Saleh mungkin tetap akan berdiri di tengah keheningan padang gurun pasir, hingga zaman berganti.