Awalnya Hanya Ukhuwah

0

Oleh: Erdy Nasrul (Alumni Gontor 2002)

Kalau sudah berjumpa, alumni Gontor akan terlihat sangat akrab. Mereka berpelukan, cium pipi kanan-kiri. Satu dan lainnya sama-sama melepas kerinduan, karena lama tak jumpa.

Setelah itu, tak sedikit waktu mereka habiskan. Jika sudah duduk bersama mulai pukul 20.00 misalkan, biasanya mereka baru selesai ketika bedug Shubuh terdengar. Apa yang dibicarakan? Nah ini yang luar biasa.

Garis besar pembicaraan adalah masa lalu di Gontor. Temanya seputar kehidupan menjadi santri Gontor mulai bangun tidur sebelum Shubuh sampai memejamkan mata pada pukul 22.00.

Misalnya pengalaman ketika saya menjadi santri Gontor tahun 2001. Pada waktu shalat zuhur, santri kelas VI (akhir) berinisial A nekat tidak berangkat ke masjid. Dia malah menyuci pakaiannya di kamar mandi. “Ane tak punya pakaian lagi nih. Harus nyuci sekarang,” katanya ketika ditanya seorang teman mengapa tidak shalat berjamaah di masjid.

Disiplin Pondok mewajibkan santri kelas V dan VI Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Kalau tidak, maka siap-siap terkena sanksi.

Benar saja, selesai shalat berjamaah. Ribuan santri bubar meninggalkan masjid. Ketika itu mereka menyaksikan santri A sedang mengucek pakaian di depan masjid terpapar sinar mentari siang yang panas. Ribuan santri tadi hanya tersenyum menahan tawa sambil berlalu.

Ada juga pembicaraan teman yang menjadi pengurus Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Gontor bagian pengajaran. Pada waktu santri belajar berpidato, teman ini berpatroli di asrama untuk memastikan semua santri menghadiri pelatihan tersebut.

Entah kenapa naluri pengurus ini mengarahkannya untuk berpatroli ke area jemuran dan kamar mandi. Padahal, dua tempat itu tak dihuni. Sambil mengenakan jas dan membawa senter dia mengikuti kata hati tadi.

Hasilnya, hanya ada pakaian bergantungan di area jemuran. Sementara di sekitar kamar mandi, dia mendengar suara seperti gemericik air. Lalu dia memeriksa puluhan kamar mandi. Pintunya dibuka satu per satu. Lalu disorot dengan senter.

Di salah satu kamar mandi, dia menemukan keanehan. Ada suara gelembung udara dari bak penampung air. Ketika disorot dengan senter, ternyata ada santri bersembunyi sambil menyelam.

Pengurus itu jengkel sekali. Dia tangkap santri tersebut. Keesokan harinya, santri tadi kehilangan rambutnya. Kemana dia berjalan selalu mengenakan peci hitam. Ada saja alasannya. Pertama malu. Kedua, biar cahaya yang memantul lewat kepalanya tidak menyilaukan mata orang sekitarnya.

Lambat laun obrolan menyentuh kondisi bangsa. Dari situ, mulailah muncul gagasan untuk membuat gerakan sederhana. Ada yang membangun pesantren di daerah masing-masing, menerbitkan buku, membuat reuni atau tajammu’. Ada juga yang terjun dalam partai politik, bisnis wirausaha, perbankan, dan banyak lagi.

Dengan gerakan tersebut, saya melihat para alumni mengamalkan berbagai ilmu dan pengalamannya hidup di Gontor. Yang paling mendasar adalah membangun persaudaraan.

Kehangatan berkumpul para alumni harus dirasakan masyarakat luas, sehingga mereka bersatu dalam langkah bersama membangun negeri.

Bangsa ini akan maju dan disegani karena pembangunannya yang masif sehingga menggairahkan perekonomian nasional, Asia, bahkan dunia.

Kuncinya ada pada dukungan internal masyarakat yang berawal dari rasa persaudaraan. Lambat laun, persaudaraan itu menjelma menjadi persatuan, sebagaimana termaktub dalam sila pertama Pancasila.

Persaudaraan bukan saja berarti lahir dari rahim ibu yang sama. Yang mengikat individu dalam kebersamaan adalah idealisme, yaitu kesamaan pandangan untuk menggapai tujuan.

Para pendahulu bangsa sudah membuktikan hal itu. Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tjokroaminoto, dan banyak lagi, memiliki satu pandangan, yaitu lepas dari hegemoni penjajah, berdiri di kaki sendiri, dan membawa bangsa kepada kemajuan.

Para wali songo pada abad ke-15 memiliki pandangan yang sama dalam islamisasi Nusantara dengan mengakomodasi kearifan setempat. Mereka dan para santrinya membentengi masyarakat dari penjajahan, sehingga muncullah kesultanan Islam di Demak (1475-1554) dan Banten pada abad ke-16.

Tak hanya mengusir penjajah, persaudaraan juga menghasilkan semangat keilmuan untuk mengkaji semesta, seperti yang dilakukan Ikhwan Safa (persaudaraan suci) di Basrah, Irak pada abad kesepuluh.

Anggota persaudaraan ini tidak diketahui pasti. Namun, berdasarkan penelitian Seyyed Hossein Nasr dalam desertasinya berjudul An Introduction to The Islamic Cosmological Doctrine, mereka adalah orang-orang berpengaruh, di antaranya dalam bidang keilmuan dan politik.

Ikhwan Safa mengkaji konsepsi alam secara ilmiyah yang dikumpulkan dalam kitab Rasail. Buku ini menjadi rujukan pembelajaran sains, yang oleh ilmuwan Barat dipilah-pilah menjadi fisika, kimia, biologi, matematika, dan lainnya.

Rasail menginspirasi ilmuwan Barat untuk lebih dalam meneliti alam semesta. Hingga saat ini, generasi muda bangsa bisa mempelajari ilmu alam dan mengambil ibrah penciptaan alam untuk menambah keimanan.

Pada intinya, persaudaraan atau ukhuwah, yang bermula dari senda gurau, nostalgia, bukanlah hal besar.

Namun, dia mampu mendorong berbagai individu untuk menghasilkan terobosan yang luar biasa, sehingga menginspirasi dunia, seperti yang dilakukan alumni Gontor, para pendiri bangsa ini, wali songo, dan lainnya.

Karena itu, mari sama-sama kita jaga persaudaraan.