Apakah Politik Menghancurkan Persatuan ?

0

Oleh : Rezky Tuanany
Direktur Eksekutif Kaukus Cendekia Muda Indonesia (KCMI)

Generasi milenial kini berada pada fase Revolusi Teknologi Komunikasi yang mengubah cara berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama. Jaringan internet yang semakin cepat juga memudahkan kita untuk mendapat informasi secara cepat dan terbuka, sehingga mengubah kebiasaan dalam menyikapi informasi, terutama dalam informasi politik. Dengan total 80 juta pemilih, atau 30 persen, generasi milenial menjadi target utama para kontestan politik untuk meraup dukungan.

Akan tetapi pesta demokrasi kali ini memunculkan polarisasi politik yang runcing disegala lapisan masyarakat. Doktrin kebencian sengaja diciptakan oleh sekelompok orang untuk mendapat perhatian publik, karena mereka sadar bahwa masyarakat awam lebih mudah mencerna doktrin dan dogma, dari pada memahami kompleksitas sosial, ekonomi, dan politik.

Fanatisme berlebih terhadap suatu golongan menjadikan seseorang menutup diri dari kebenaran yang disampaikan diluar golongannya, bahkan cenderung membenci kelompok lain. Kebencian inilah yang memunculkan sikap radikal, membuat seseorang menjadi radikal dalam berinteraksi di sosial media, yaitu dengan mudah dan rutin menyebarkan kabar bohong serta ujaran kebencian, karena akal sehat sudah tidak lagi digunakan.

Maka anak muda dituntut menjadi teladan bagaimana menggunakan akal dalam menerima informasi, dan mengedepankan akhlak dalam berprilaku di dunia digital. Sikap kritis terhadap semua informasi yang didapat, menganalisa kebenaran berita, dan tidak ikut-ikutan melakukan ujaran kebencian adalah langkah nyata untuk mereduksi polarisasi yang terjadi.

Kebodohanlah yang menjadi sumber perpecahan, bukan politik. Jangan sampai fanatisme terhadap golongan mebuat kita kehilangan akal, dan menghilangkan keakraban antar sesama warga negara.