8 Keunikan Kehidupan Santri Gontor

0
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

GONTOR, KataIndonesia.com – Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) adalah salah satu pondok pesantren yang terletak di Desa Gontor, Kabupaten Ponorogo. PMDG didirikan pada tahun 1926 dan terkenal dengan sistem pendidikan pesantren modern dengan menerapkan disiplin yang tinggi, leadership, serta penguasaan bahasa asing (Arab dan Inggris).

Berikut 8 keunikan yang dilakukan santri Gontor dalam kehidupan kesehariannya.

1. No Bag

Pada umumnya anak sekolahan akan selalu membawa tas untuk membawa buku dan alat tulisnya. Namun kebiasaan tersebut tidak terlihat dalam keseharian para santri Pondok Modern Gontor Pria. Segala peralatan alat tulis atau peralatan ibadah lainnya dibawa menggunakan tangan atau jika berjumlah banyak akan menggunakan plastik kresek.

2. No Hand Phone

Seluruh santri tidak diperbolehkan membawa telepon genggam ke dalam pondok pesantren. Warung Telpon (Wartel) menjadi satu-satunya media komunikasi ketika mereka ingin melepas rindu dengan kedua orang tuanya. Santri yang ditemukan membawa telepon genggam akan mendapat hukuman digundul dan pemanggilan orang tuanya.

3. Pengurus Rayon Dipanggil Bagian Keamanan

Di Pondok Gontor santri kelas 5 yang bertugas menjaga 24 jam anggotanya, adapun anggota terdiri dari santri kelas 1 sampai 4. Jika ada anggota yang melanggar disiplin pondok, maka pengurus rayon (mudabbir) akan selalu dipanggil bagian OPPM Keamanan Pusat.

4. Agen Rahasia alias Jasus

Bentuk hukuman lain bagi santri yang melakukan pelanggaran yaitu penugasan menjadi agen rahasia atau disebut dengan istilah Jasus (mata-mata) di kalangan para santri. Jasus diberikan misi untuk mematai-matai santri lain dan melakukan pencatatan pelanggaran yang dilakukan. Biasanya seorang Jasus memiliki target mengumpulkan tiga pelanggaran oleh tiga pelaku. Jasus menjadi momok bagi santri lainnya karena sifat kerahasiaan misi yang diembannnya dan sulitnya mengidentifikasi keberadaan Jasus. Tidak jarang tanpa disadari ternyata teman sekamar sedang mendapat misi khusus sebagai Jasus sehingga membuat setiap santri selalu alert untuk tidak melakukan pelanggaran baik pelanggaran bahasa maupun pelanggaran keamanan (disiplin).

5. Minggu Arab dan Minggu Inggris

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di dalam pondok pesantren, para santri diwajibkan menggunakan dua jenis bahasa yaitu bahasa Arab dan Inggris. Dalam satu bulan, dua minggu didedikasikan untuk bahasa Arab dan dua minggu berikutnya menggunakan bahasa Inggris.

Bagian penerangan yang diawaki para santri akan mengumumkan saatnya minggu Arab dimulai. Setelah berlangsung dua minggu, petugas penerangan kembali akan mengumumkan berkahirnya minggu Arab dan diganti dengan minggu Inggris. Selama minggu Arab atau Inggris berlangsung, masing-masing santri diwajibkan menghapal tiga kosa kata per hari. Pengawasan penggunaan bahasa akan dilakukan oleh teman-teman mereka sendiri yang tengah bertugas sebagai Jasus (agen rahasia). Bagi mereka yang melakukan pelanggaran akan mendapatkan hukuman sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan.

6. Minum Air Putih Pakai Piring

Jika banyak orang minum air putih menggunakan gelas, beda halnya dengan santri Gontor yang biasa minum dengan memakai piring. Bagi mereka minum air putih mengunakan piring lebih efisien dan praktis.

7. Tidur di Tangga Masjid

Musim ujian telah tiba, rasa semangat dalam belajar makin tinggi demi mendapatkan nilai yang maksimal, lantaran santri Gontor semuanya merasakan ujian selama 1 bulan. Dengan materi ujian Syafahi (ujian lisan) dan ujian Tahriri (ujian Tulis).
Tidak aneh ketika kita melihat santri Gontor belajar sampai tertidur pulas di tangga masjid.

8. Setrika Baju Pakai Kamus Oxford

Para santri tidak diperbolehkan membawa setrika masuk ke dalam asrama. Karenanya merapikan pakaian menjadi tantangan tersendiri para santri. Mereka harus bisa mencari cara lain selain mnggunakan setrika. Dalam kondisi tersebut, para santri tidak kehabisan akal. Beberapa santri menuturkan bahwa mereka merapikan baju dan sarung mereka menggunakan buku atau kamus yang berukuran besar seperti kamus Oxford. Caranya adalah dengan menempelkan atau menindih lipatan baju atau sarung dengan Oxford selama semalaman. Teknis lainnya yaitu menggunakan bekas kartun yang diperoleh dari pembelian pakaian baru yang kemudian disimpan untuk melipat baju yang hendak dipakai pada keesokan harinya.

8. Penggunaan Sajadah

Sajadah selalu menjadi bagian keseharian para santri. Setiap santri diwajibkan membawa sajadah khususnya ketika waktu sholat berjamaah tiba. Penggunaan sajadah memiliki kekhasan tersendiri tergantung pada posisi dalam asrama (pengurus/non-pengurus). Pengurus akan menggunakan sajadah ukuran besar. Sementara penghuni biasa akan menggunakan ukuran yang lebih kecil.

Selain itu peletakan sajadah juga akan ditentukan oleh jabatan tertentu dalam organisasi santri. Khusus bagi mereka yang duduk sebagai petugas keamanan, diwajibkan menggunakan sajadah ukuran besar dan diletakkan di bagian pundak sebelah kiri. Sementara santri lainnya meletakkan sajadah mereka di pundak sebelah kanan.

Advertisement